Proses Eksekusi Tikus

Tikus berdecit di rumah? Sudah biasa. Tikus bermain sepak bola di loteng rumah? Sudah biasa. Tikus ngrikiti plastik bahkan lemari? Sudah biasa. Lem tikus, penjepit tikus bertebaran di rumah? Sudah biasa. Berburu tikus? Sudah biasa.

Malam ini, aku berkutat di depan laptop, berencana membuat semacam tulisan mengenai Earth Hour yang penduduk bumi rayakan. Tiba-tiba, ayahku menjerit-jerit sambil mengatakan “TIKUS TIKUS!!”. Hanya menjerit-jerit saja karena belum siap dengan segala amunisi utnuk bertarung melawan tikus.

Dengan langkah kecilnya yang cepat sekali, tubuh tikus yang hitam sebesar ‘mouse’ yang jadul itu lari tunggang langgang mencari tempat perlindungan. Tepat di depan pintu kamarku, ia berhenti sejenak dan membanting setir ke kiri, ke kamar ayahku. Mungkin, tikus itu takut mendengar suara radio yang aku nyalakan keras-keras dan melihat aku yang terus memelototinya.

Di dalam kamar ayahnku, tikus ginuk-ginuk tersebut dieksekusi habis-habisan oleh ayaku dan aku. Ya, aku. Karena bakat pawang tikus yang diturunkan oleh ayahku, jatuh ke aku. Haha. Tidak seperti eksekutor yang membunuh terpidana mati dengan senjata dan ditembakkan tepat di jantungnya. Kami hanya bermodal sapu lidi dan lem tikus.

Mengintip bawah kasur, pukul. Lari sana. Pukul. Ngumpet di belakang lemari. Dibuat suara-suara supaya keluar. Pukul. Mau naik ke ventilasi, tapi sayang gordennya sudah kami naikkan. Jadi, tikusnya tidak bisa naik. pukul lagi. Dipasangi lem tikus, tapi tidak mempan karena tikusnya terlalu besar.

“Yah, pokonya tikusnya harus ketangkep sampai mati.” Aku tidak sudi membiarkan hama rumahku yang telah menghasilkan keturunan yang banyak dan pernah mengotori kasurku, tidak dihukum atas perbuatan asusilanya.\

5 menit, 10 menit, 20 menit, 30 menit, 45 menit. Rupanya tikus sudah kelelahan kami pukuli terus. Tidak berkutik, tapi belum mati. Seperti pengalaman dulu, ketika tikus dikira sudah mati dan akan dikuburkan, tikus ternyata masih hidup lalu lari terbirit-birit. Setelah tikus mengibarkan bendera putih, ayah menempeli tubuhnya dengan lem tikus dan membawanya ke kebon untuk benar-benar dieksekusi. Diplenet, digencet, diplithes atau apalah namanya dengan cangkul. Krepeekk!. Tubuhnya gepeng dan siap untuk dikuburkan di dekat makam teman-temannya. Eh, mbuh ding, ketoke kesebar deh.

1 tikus mati. Masih ada tikus-tikus lain yang siap untuk kami eksekusi. Muwakaka :D ngos-ngosan kehabisa nafas, keringetan. Loh? Kok rencana nulis tentang Earth Hour malah hasilnya tentang tikus? Ah, pandai sekali si tikus mencuri minat saya menulis Earth Hour. Tak apalah. Suatu saat nanti, saya akan menulis tentang Earth Hour.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s