Bola Voli Temangsang

Tidak ada alasan untuk semangat berangkat sekolah di hari Jumat selain olahraga. Yei! Setelah 2 minggu nggak olahraga gara-gara libur UAN sama UTS, hari ini saatnya berkeringaat!!

Walaupun udah panas (soalnya kelasku olahraga jam ke 3), aku, Hanum, Emil, Shifa tetap semangat olahraga. Ya~h, ternyata kelas XI IPA 5 sedang ujian praktek. Lapangannya dipakai. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya mas-mas kelas 3 yang semula makai lapangan voli, pindah ke lapangan basket soalnya mau bal-balan.

Pak Yuli ngendika kalau olahraganya bebas. Mau badminton, voli, tenis, basket, terserah. Aku, Hanum, Emil, Shifa langsung capcus ambil bola voli. Walaupun nggak cetho mainnya (sekali dua kali tamplek langsung jatuh ke tanah), tapi cukup berkeringat. Kepanasen ples ketawa terbahak-bahak.

Saking asik dan semangatnya, entah siapa waktu itu yang namplek, bolanya temangsang di hiasan taman itu loo, lapangan voli bagian utara kan ada hiasan taman dari batu buatan, yang ada kolamnya juga (sudah bisa mbayangkan to?). Nah, temangsangnya tu tinggi banget. Mana aku, Hanum, Emil nggak tinggi-tinggi amat lagi. Aku, Hanum, Emil coba manjat batu-batu tersebut. Tapi nggak ada pegangannya. Singunen, takut jatuh. Dicuthik pakai raket, gagal.

Aksi kami yang sudah mirip tokek soalnya ndempel-ndempel ditembok dengan posisi nggak enak banget, mengundang simpati mas-mas kelas 3.

“Sini dek coba tak ambilnya,” mas Haikal menawarkan bantuannya.

“Nah, mbok gitu. Dari tadi ngapa mas?!” kami menjawab.

“Huu, Haikal sok jadi pahlawan.” Mas-mas kelas 3 menyorakinya (eh, iya nggak to?)

Tapi, herannya, mas Haikal ngambil bola dari arah kolam, terus naik, baru ke arah bolanya. Padahal bolanya ada di deket masjid. Pas mas Haikal sudah mendekati bolanya, datanglah mas Putro. Tetereteteettt!!!

Dengan gampangnya, mas Putro manjat dinding (yang tadi kita panjat) trus tangannya meraih-raih, hap. Bola berhasil diambil oleh mas Putro. Selamat-selamat..

Kasihan sekali mas Haikal yang sudah manjat dinding jauh jauh, eh, ternyata bisa diambil oleh mas Putro cuma dengan beberapa kali pijakan.

“Kene-kene, ben marem, bal-e di selehke meneh.” Mas Putro melucu.

Akhirnya, bola berhasil diambil oleh Mas Putro. Dan mas Haikal turun dari perjalanan panjangnya dengan tangan hampa dan kaki kesetrum-setrum listrik. Hahaha :D

Terimakasih yaa Mas Putro dan Mas Haikal…


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s