Lost in Solo

Selasa, 6 Juli 2010

Ke Solo naik Prameks menjadi mimpi sejak lama, mendengar mbak Mama dan Mas Supi bilang asik. Ditambah lagi Emil yang mendapatkan kesan di sana. Tapi, sekarang mimpi itu telah menjadi kenyataan. Yeiy!

Dewi, aku, Sarah, Hanum berencana ke Solo ketika liburan kenaikan kelas ini. Sebelum berjuang di kelas 3, bersenang-senang dulu lah. Rencana awal ke Solo hari Senin. Tapi karena aku, Hanum dan Sarah ada acara akhirnya diundur hari Selasa. Setelah mencari-cari info di internet, diputuskan : kumpul di rumahku jam 6 karena kita mau naik prameks yang berangkat jam 6.35. Sebelum memutuskan keputusan itu, ada banyak saran masuk. Hanum menyarankan untuk naik kereta yang jam 8.35. Saran Dewi adalah mendingan nonton Eclips aja karena harga kereta ke Jakarta naik. Berarti ke Solo juga naik. Emang dasarnya aku yang keras kepala, kalau tekat sudah bulat, ya berangkat. Sarah mengajak saudaranya, Dewi bersama adiknya, dan aku menggandeng mbak Mama dan dik Fara, saudaraku dari Bandung. Hmm, akan ramai sepertinya. Eits, tunggu dulu. Sms masuk. Dewi tidak jadi ikut karena tidak diperbolehkan oleh orangtuanya. Hanum gagal mencoba kereta karen sakit (cepat sembuh ya). Sementara Sarah tetap akan ke Solo.

Jam 6 aku, mbak Mama, dik Fara sudah siap. Oh, ternyata Sarah belum siap. Dia bertanya kapan keberangkatan kereta setelah jam 6.35. Sepertinya Sarah akan naik kerta yang jam 8.35. Yasudah, kami melaju ke Stasiun Tugu. Membeli tiket seharga 9000, tunggu sebentar, dan Prameks pun tiba. Kereta melaju dengan dipenuhi oleh orang-orang. Ada yang memang nglaju, ada pula yang cuma untuk jalan-jalan, seperti kami. 1 jam berdiri di dalam kereta membuat kaki pegal dan sampai di Stasiun Solo Balapan. Sms Sarah kabarnya gimana. Tidak dibalas. Telpon tidak diangkat. Yasudahlah. Ketidakpedulianku muncul ke permukaan. Luweh sakarepmu. Melu yo ayo arep ketemuan ning ndi. Nek ora yo rapopo, wong aku wis ning Solo kok.

Keluar dari stasiun bingung mau ke mana. Kaki kami berjalan ke arah kanan. Beli pulsa dulu sekalian tanya sama penjualnya. Beliau menyarankan untuk naik becak saja ke Solo Grand Mall (SGM). Kami ke sana iseng-iseng saja siapa tahu Eclips sudah ada dan tidak antri panjang. Bzz, bzz. Sms masuk. Dari Sarah. Dia tidak jadi ke Solo. It’s oke -.-walaupun sedikit kecewa karena perjalanan ini seharusnya bersama sahabat tapi pada akhirnya mereka tidak jadi semua. Lanjut. Perjalanan naik becak berlanjut sambil pak tukang becaknya menjelaskan tentang Solo. Sudah belok cukup jauh ke arah SGM, tapi kami meminta untuk balik arah ke alun-alun saja. Untung bapaknya manut. Tanpa malu-malu, kami meminta pak tukang becaknya untuk menunggu kami narsis di spot-spot tertentu. Lagi-lagi bapanya manut. Terimakasih sekali ya pak. Dengan ongkos 12000 kami tiba di alun-alun. Rupanya sedang ada bazar, festival, pasar atau apalah namanya yang banyak orang pakai tenda-tenda jualan di tengah alun-alun. Ada tulisan Museum Kraton Surakarta. Masuklah kami. Sambil menunggu loket buka, kami berfoto dengan abdi dalem di sana. Wow, masuk ke kraton, suasananya berbeda kata dik Fara. Tapi bagiku sama saja. Lalu, kami memasuki wilayah yang tidak boleh menggunakan sandal, kacamata, topi, bla bla bla. Banyak peraturannya. Tidak lama di sana karena merasa tidak nyaman. Mana ada tour guide yang menjelaskan tentang horor-horor pula, ada sesajen juga. Kami segera angkat kaki. Eh, ada serombongan bule yang mau masuk. Mereka sibuk memilih pakaian untuk menutup bagian-bagian yang harus ditutup. Ternyata batik itu bagus loo. Oiya, tiket masuk Kraton mahal. 8000 per orang. Tak apalah, demi pengalaman.

bersama abdi dalem

Lanjut setelah dari Kraton, kami ke SGM. Semula mau jalan kaki. Tapi jauh. Lalu diputuskan untuk naik becak lagi dengan ongkos 12000. Selama perjalanan menuju SGM, kami melihat banyak pasar. Pasar Cinderamata, Pasar Klewer, Pasar Kembang. Kami tidak tertarik untuk ke sana.

Sampailah di Solo Grand Mall. Turun dari becak dan oh no! sandalku pedhot. Terpaksa deh dengan jalan terseok-seok masuk ke Mall. Langsung capcus ke 21 yang ternyata antri panjang. Tidak jadi nonton deh. Naluri wisata kulinernya muncul. Food court menjadi tujuan kami. Mmm, akhirnya kami membeli Mie Horizon 2 porsi. Padahal kami ber-3. Tidak menjadi masalah. Harganya belasan ribu. Sebenarnarnya tidak mau beli minum, tapi karena aku menumpahkan sebotol Tupperware minum yang sudah dibawa dari rumah, akhirnya beli Tongji.

Jarum jam hampir menunjukkan tengah hari. Kami bingung kemana lagi tujuan selanjutnya. Search di internet mengenai kuliner khas solo. Lalu kami menuju Kupat Tahu Jalan Gajah Mada nomor 90-an dekat masjid Solihin. Keluar dari mall, hmm kea rah mana ini? Kanan atau kiri? Kiri sajalah. Karena kami tidak tahu jalan gajah mada ada dimana, setelah berjalan cukup jauh kami mau bertanya kepada polisi. “tanya polisi aja sana//ih, nggak mau//la kenapa to?//bentukannya polisinya udah nggak enak. Ntar kalo digodain gimana?// “ polisinya itu bergaya sok keren gitu, duduk di atas motornya yang gedhe lalu memakai kacamat hitam. Malesi banget. Akhirnya kami bertanya kepada satpam lalu melengganglah kami menuju arah yang pak satpan beri tahu tadi.

jalan slamet riyadi

Ya, kami jalan kaki menuju Kupat Tahu yang ada di jalan Gajah Mada itu. Ternyata ada untungnya juga berjalan kaki. Selain mencegah osteoporosis karena berjalan 10ribu langkah, kami bisa berfoto-foto. Kebetulan kami melewati jalan Slamet Riyadi yang rimbun, banyak bangunan bagus-bagus, kuno. Pas sekali untuk yang berjiwa narsis. Weh, ada gramedia. Biasa? Tidak. berbeda dengan gramedia jogja yang bangunannya modern, gramedia di solo ini malah seperti museum. Masuk, numpang sholat. Lanjut perjalanan kaki.

Memasuki jalan gajah mada, kami bingung mencari warung kupat tahu itu. Diurutkan nomornya. Nomor yang tertera di internet tidak ada. Lalu kami ndangak mencari masjid. Nah, ketemulah masjid. Dan di sampingnya ada warung kupat tahu banyak sekali. Tapi kami memutuskan untuk makan di tempat yang terdekat dengan masjid dan teramai. Lain kali kalau mau beli kupat tahu yang tidak pedes di tempat ini, bilangnya ‘tidak pakai cabai’. Karena aku pesan yang tidak pedes, tapi tetep deh dikasih cabai rawit 1 buah. Membayar 16.500 untuk kupat tahu 3 porsi dan krupuk 3 buah. Murah juga untuk makanan seenak dan sekenyang itu.

Nongkrong dulu di masjid Sholihin. Kenapa di masjid? Karena sepanas apapun udara, masjid tetap sejuk walaupun tanpa kipas angin atau AC. Subhanallah. Karena hari sudah sore, kami memutuskan untuk pulang. Menuju ke stasiun Balapan. Beli tiket, naik kereta. Tidak dapat tempat duduk, tidak masalah. Sudah siap koran untuk nglekar di lantai. Tanpa terasa 1 jam-an kami di kereta dan sampai di Stasiun Tugu lagi.

di stasiun balapan

Suasana sore yang selalu aku sukai, matahari yang beranjak menuju peraduannya menemani kami berkendara motor menuju rumah. Yeiy!

*dianjurkankan membawa koran untuk jaga-jaga kalau tidak mendapatkan tempat duduk di kereta. Disarankan untuk tidak mengunjungi mall karena mall di mana pun pasti sama saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s