Growing Up or Just Getting Older

31 Agustus 1993 – 31 Agustus 2010

Setelah tidur panjang selama 10 jam (o.O) saya terbangun karena teringat ada buku yang hilang. Ketika mau sms teman, ada pesan masuk yang bertuliskan: selamat ulang tahun. Oh, rupanya saya berulang tahun hari ini. Terimakasih untuk Mas Juno dan Emil yang mengingatkan kalau saya sudah hidup di dunia selama 17 tahun.

Kata orang, ulang tahun ke-17 itu indah, sweet seventeen. Tapi bagi saya, hal itu tidak lebih dari mendapatkan KTP dan SIM, dua identitas yang dibanggakan ketika SMA. Semua sama saja. Matahari masih terbit dari timur, suara adzan masih bersahut-sahutan, radio di kamar tidak berhenti mengoceh, saya juga tidak lupa kok untuk berkata di pagi hari: ah, males sekolah.

Agaknya, saya dididik untuk tidak menyukai perayaan, terutama ulangtahun. Bukan perayaan yang dibutuhkan di sini, tapi perkembangan setiap kaki melangkah menuju yang lebih baik.

Ibuk baru sadar kalau anaknya ini ulangtahun saat sudah di sekolah. Ketika MJ dan Ervin teriak-teriak keluar dari TU sambil mengucapkan selamat ulangtahun. “Oh, ulantahun ya dek?” Meluncurlah doa-doa yang lalu saya amin-i. Ada satu doa yang selalu ibuk panjatkan: semoga tidak lupa membantu ibuk yaa. Hmm – – begitu pula bapak, mbak Mama, mas Supi. Jadi, saya meminta maaf kalau sering lupa tanggal ulangtahun teman teman yaa. Maklum, sudah bawaan. hehe.

Kemudian, Dewi dan Hanum yang koar-koar seperti suara gagak yang terdengar saentro SMADA. Berlebihan ini. Ah, bukan saentro smada, ya setidaknya setiap orang yang kita lewati, mereka bilang: eh, Ijah ulangtahun loo. Ealah cah, sing ulangtahun biasa wae kok kowe heboh banget. Seperti mendapat info kalau Indonesia baru saja bebas dari penjajahan sehingga semua orang harus tahu.

“Loh, kok wis 17 tahun to?” pertanyaan retoris yang diutarakan bapak. Mungkin bukan cuma bapak, tapi orang-orang tidak menyangka kalau umur saya sudah 17 tahun. Mungkin kamu juga tidak akan percaya kalau melihat saya yang kecil ini, masih suka lompat-lompat bergerak tidak kontrol. Minta diantar mbak Beta ke masjid syuhada untuk main ayunan. Haha.

Overall,

Terimakasih Allah untuk kehidupan yang luar biasa ini, untuk semua yang telah Engkau berikan. Terimakasih ibuk, bapak, mas Supi, mbak Mama yang walaupun lupa saya lahir kapan, tapi tidak pernah lupa kalau punya anak/adik seperti saya kaan?? hehe

Terimakasih Dewi, Hanum untuk koar-koarnya. Emil, Shifa yang sudah nglegakke ke kelas, Hervi untuk nyanyiannya, Yanu dkk di gerbang depan, Pak Win yang ikut-ikutan memberi selamat. Mbak Tutik dan Bu Suzana dengan doanya yang membuat saya sedikit kaget. Teman mengetik yang membuat saya betah di depan layar. Terimakasih teman-teman, saudara-saudara atas ucapan, doa, senyum, dan jabat tangannya.

Untuk kamu, terimakasih karena sudah hadir lalu mewarnai hidup saya. Semoga saya juga bisa begitu. Hehe. Biar pandak.

Ciyaaaat!! Move, jah..

*oiya, itu judul saya ambil dari materi yang dipelajari di LIA

Advertisements

4 thoughts on “Growing Up or Just Getting Older

  1. Ade. Atas nama seluruh keluarga besar FROSA kami mengucapkan selamat kepada ade. Semoga sukses dan berguna bagi orang tua ,agama, nusa bangsa, dan dunia. barakillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s