Karena Rasa Hanyalah Selera

Saya adalah tipe-tipe anak mami yang jarang jajan dan suka membawa bekal masakan ibuk untuk makan siang di sekolah. Tapi kalau sedang pengen jajan dan punya uang, saya tidak segan untuk pergi warung untuk membeli makan.

Ketika hanya berdua di rumah dengan mbak, saya pengin jajan. Setelah bingung mau makan dimana, akhirnya kami memacu motor untuk ke Pizza Hut di jalan kaliurang. Ini kali pertama saya makan di Pizza Hut dan sepertinya akan menjadi yang teakhir.

Memasuki bangunan modern yang saya suka karena bagus, kami memilih menu. Menu delight berdua yaitu pizza topping daging, jagung, ada pinggiran dari sosis. Pasta makroni saus krim, es the, jus jeruk adalah yang kami pesan. Bisa memilih sesuai selera. Gigitan pertama, okelah sampai habis seperempat bagian . Pasta, lumayanlah. Tapi yang menjadi masalah adalah kami harus menghabiskan semuanya. Kalau tidak habis ‘maneman’ karena sudah nglegakke pergi, harga yang lumayan mahal. Perlu diketahui, ukuran pizza dengan jari-jari selebar telapak orang dewasa, pasta yang lumayan banyak. Bersusah payah menghabiskan ini. Ditambah lagi, pesan es krim, yang untuk 2-3 orang, sebanyak 3-4 skup. Pertimbangan kami adalah, saya mungkin tidak akan pernah kesini lagi, jadi, sekalian aja beli es krim yang menjadi makanan favorit saya.

Bisa dibanyangkan makan sebanyak itu, kedinginan karena AC, celana menjadi sempit. Pulanglah kami tanpa uang sekitar 50ribu karena sudah dikasihkan ke masnya Pizza Hut. Di tengah perjalanan dan di rumah, saya mengembalikan semua makanan yang sudah masuk perut. Tapi sayang, uang tidak bisa kembali karena saya mengembalikan makanan dalam wujud yang sudah berbeda.

Lalu kemarin, ibuk tidak masak. Sehabis dari terban dan Toga Mas, kami pergi ke Mrican. Gang yang berada di utaranya Hotel Plaza, masuk. Lalu, pas di pertigaan ada tempat makan bernamakan cina (‘Tio Ciaw’ kalau tidak salah). Di depannya ada spanduk hijau yang berisi tentang menu-menunya. Tempat makan ini buka setiap hari pukul 10.00-24.00.

Apa yang kami beli? Cumi-cumi hotplate yang dimasak asam manis seharga 23ribu, capcai godog 14ribu, nasi 1 porsi saja, es jeruk dan es the tawar. Penantian yang cukup lama, berujung pada hadirnya cumi-cumi dan capcai yang masih panas. Menggoda sekali. Lahap hap hap hap. Karena kami suka seafood, maka habislah cumi-cumi itu. Tapi, capcainya tidak. Porsi sebanyak itu dan harga yang segitu, enaknya untuk bertiga atau berempat. Tapi kalau memang addict dan punya perut karet, tidak menjadi masalah.

Dari pengalaman di Pizza Hut dan di tempat makan cina itu, dapat disimpulakan kalau sesuatu yang berlebihan menjadi tidak enak. Lebih baik sedikit, tapi berkesan.

Advertisements

3 thoughts on “Karena Rasa Hanyalah Selera

  1. adik.. membaca ceritamu ada segudang rindu dalam benakku..
    aq sangat merindukan bekas kamarku yg dulu..yang selalu berwarna biru?
    apakah masih seperti dulu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s