Will I Be an Architect?

Menjadi siswa tahun terakhir di SMA adalah hal yang berat. Selain harus dihadapkan pada ujian kelulusan, bagi yang ingin melanjutkan studi harus berebut kursi untuk memasuki perguruan tinggi. Apalagi kalau di tahun sebelumnya, mbolos sekolah menjadi hal yang biasa.

Inilah saya yang sebentar lagi akan melepas seragam putih abu-abu. Lalu, setelah itu apa yang akan saya kenakan?

Di awal-awal kelas 3, berniat untuk kuliah di STAN. Tapi tidak tahu mengapa, menjadi tidak semangat lagi ingin kuliah di sana. Saya menerima pertanyaan dari banyak orang: “mau kuliah dimana?” malu dengan diri sendiri sekaligus iri ketika teman-teman sudah menemukan jawabannya.

Beruntunglah karena memiliki orangtua yang tidak banyak menuntut. Tapi kebebasan justru membuat semakin bingung. Ibuk menyarankan untuk kuliah di arsitektur entah karena alasan apa.

Dan ketika ditanya oleh Pak Ucok, seorang konsultan akademik di SSC, saya menjawab arsitektur. “Oh, bagus mbak. Kamu punya jiwa seni tapi kurang dikembangkan saja bakatnya. Desain interior UNS juga boleh. Tapi arsitektur juga nggak papa.” Terimakasih Pak Ucok atas sarannya.

Ketika semakin yakin untuk menjadi arsitek, keraguan muncul ketika nonton film kartun Jepang yang berjudul “Pom Poko”. Film itu seperti apa silakan saja cari di internet. Tapi yang jelas, film itu membuat saya sedikit ragu untuk menjadi arsitek atau mungkin bisa juga memotivasi untuk menjadi arsitek yang hebat.

Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Advertisements

3 thoughts on “Will I Be an Architect?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s