Lebaran Semangka di Bedono

Hai, selamat lebaran! Maafkan saya yaa. Semoga Allah menerima semua amal kebaikan dan menghapus dosa kita. Amin.

Seperti biasa, setelah syawalan di masjid dekat rumah langsung meluncur ke Seyegan. Mbah dari bapak. Walaupun hanya berjarak 30 menit perjalanan, tapi saya selalu suka melihat sawah-sawah di sepanjang perjalanan, pegunungan dari kejauhan, dan air selokan mataram yang melimpah ruah. Sejak dulu saya ingin sekali renang di selokan dekat rumah mbah (bukan selokan di kota yang sempit dan butek). Bapak pernah cerita, ketika kecil suka berenang disana tanpa melakukan gerakan apapun sudah bisa ngeli. Dan air surut adalah saatnya mencari udang-udang kecil di sela batu. Ah, rasanya zaman sekarang anak-anak lebih sering berkutat dengan versi digital ya? Padahal asik sekali nongkrong di teras rumah sambil memandangi kebon yang luasnya amblah-amblah, atau sekedar merasakan semilir angin sore sambil menyaksikan matahari hilang di balik pegunungan. Damai.

Oiya, oot sedikit. Kapan kita menyusuri selokan mataram, wahai kawanan archigowes?

Kemudian hari berikutnya mengunjungi mbah dari ibuk. Temanggung. Kota tembakau dengan suhu yang dingin sukses membuat saya susah lepas dari kasur tapi juga berdecak kagum. Bagaimana tidak? Jika pergi keluar rumah akan membeku tentu saja dan  terlihat Gunung Sumbing gagah berdiri tepat di hadapan menemani Gunung Sindoro di sebelahnya. Orang bilang mereka kembar. Di sisi lain, duet antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi yang super cool. Satu hal yang saya suka, rumah mbah punya dak jadi saya bisa melihat langit yang berbintang banyak itu lama-lama.

Di luar kebiasaan, anak-anak dari keluarga Bandung tidak pulang. Kucing kesayangan mereka sakit. Oke, baiklah. Selain itu, untuk pertama kalinya berkunjung ke sepupunya mbah di kaki Gunung Merbabu. Masing-masing tidak ada yang ingat karena terakhir bertemu ketika ibuk masih kecil. Ini dia, keluarga saya tidak ada acara kumpul trah baik dari pihak ibuk ataupun bapak. Bahkan saya tidak tahu bagaimana silsilahnya dengan sesepuh yang kami kunjungi. Persaudaraan itu lucu dan membingungkan ya? Najwa yang satu garis dengan ibuk tapi masih kelas 5 SD.

Merbabu itu kok keliatannya pendek to? Adek sampai puncak yang mana? Yang kanan apa yang kiri?

Rindu yang tertinggal di atas sana tiba-tiba menyeruak. Suatu saat nanti, kita akan kesana lagi.

 

 

siang-siang panas, leyeh-leyeh di bawah pohon, semangka. great combination!

anak hilang di stasiun bedono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s