Sepeda Selokan Mataram

Setelah perjalanan Sabtu, 3 November 2012 dan mendapatkan supply foto dari Miftah, Kiky dengan segera memposting di blognya. Nggak mau kalah dong yaaa, saya juga mau cerita tentang 5 orang yang bersepeda menyusuri selokan Mataram dari UGM sampai di hulunya, Kali Progo. 

Bertemu dengan mereka di Jalan Magelang. Menjadi anak rumahan agak tidak bersahabat untuk pergi kluyuran, sebenarnya.

Rutenya? Ikuti saja aliran selokan. Ketika itu kami melawan arus air.

Dari jembatan teknik UGM nyebrang Jalan Monjali, nyebrang Jalan Magelang, nyebrang Jalan Kabupaten, nyebrang ringroad, nyebrang Jalan menuju Godean, nyebrang jalan KebonAgung, hingga menemukan SMP 2 Tempel.

Mulai dari situ, jalan aspal berubah menjadi offroad. Sebenarnya bisa sih belok ke selatan tapi kami butuh tantangan. haha. Kasihan Suva sepedanya langsung masuk bengkel ntar. Huu, salahnya pakek sepeda balap mahal :p

Ketika suasana perlahan berubah menjadi damai dan sentosa, saya berusaha mengingat kemana kita harus melaju. Tapi yang di kepala cuma: udah, ikuti aja alirannya.

Sampai akhirnya, jeduar! Selokan keputus kali krasak. Kita tersesat!

Dengan modal bahasa Jawa yang entah itu ngoko apa kromo, saya dan Kiky berulang-ulang tanya kemana arah menuju Bendungan Ancol, hulu Selokan Mataram di Kali Progo.  Satu pelajaran yang didapat: jangan pernah bertanya seberapa jauh lagi akan sampai tempat tujuan. PHPlah~

Intinya lupakanlah sejenak studio, SK, tugas abalabal, UTS nggombal, 3ds max, laptop, motor, dan semua hiruk pikuk dunia kampus yang jujur saja … memuakkan.

Semua yang kita lihat adalah hamparan hijau sawah pepohonan dengan rumah-rumah sederhana diantaranya. Dengan suara musik aliran air selokan dan gesekan daun yang tertiup angin. I feel like I’m home.

Dalam diam, kami berlima terus mengayuh sepeda. Sesekali guyonan dan gombalan tidak penting memecah imajinasi masing-masing. Tanpa disadari, kami menjadi ada jarak lebih dari 20 meter. Rahmi dan Suva berada di depan. Kiky dan Miftah berada di belakang. SAYA.SENDIRIAN. AJA. *harus pakai capslock* Ngenes banget kalau diingat-ingat ini :(

Setelah melewati rumah-rumah penduduk, kami menyebrang Kali Krasak dan insting langsung pengen nyebur-nyebur bermain air. Bahagia itu sederhana,  ya?

Tidak serumit hubungan mereka berdua. Manusia Jakarta yang selalu bertengkar kalau bertemu. Saya, kami sampai suka bingung sendiri melihat mereka adu mulut tidak ada habisnya. Padahal sama-sama suka fotografi, sama-sama suka sepeda. Udah deh, kenapa nggak kalian seriusin aja sih?

Hingga akhirnya setelah perjalanan 24 km kami sampai di Bendungan Ancol. Tempat enak buat leyeh-leyeh membicarakan hal-hal random. Dan tentu saja mem-bully Miftah habis-habisan.

Lalu setelah Dzuhur, kami pulang melewati jalan lain dan menemukan another unforgettable experience.

Melewati genangan air yang belum tahu kedalamannya berapa. Radarnya Miftah langsung aktif dan menceburkan diri dengan ngebut sehingga airnya nyiprat-nyirat. Saya kira dia akan tenggelam ditarik Dewi Selokan. Untunglah selamat sehingga bisa ada yang memoto. Tepuk tangan untuk Rahmi sebagai new biker yang berhasil melewati tantangan ini.

Saya bilang ke mereka: eh, mbok kita kejebak hujan terus berteduh dimana gitu ya?! Mereka bilang: jangan hujan doong. Tapi takdir sedang berpihak kepada saya. Setelah sholat Dzuhur, hujan turun deras dan terpaksa kami duduk-duduk dulu di masjid. Lalu hujan lagi. Berteduh lagi di Kandang Sapi. Muncullah soundtrack of the journey: Sherina-Pelangiku.

Setelah reda, kami lanjut dan menemukan best view dari jembatan gantung di daerah mana nggak tau. Jurang yang dalam dan seksi dan sungai berkelok dengan hawa sehabis hujan. Perfect!

Lalu perjalanan pulang yang membuat semangat kami agak kendor karena jalan naik menuju rumah saya. Tapi tetap saja yaa, dasar mahasiswa, dapat makanan gratis seberapapun langsung dikuras habis. Dan saya suka ketika kami ndugong terkapar berbagi bantal bercerita bagaimana tidak terduganya perjalanan ini.

Akhirnya saya menemukan travelmate dengan paket lengkap. Faizana Izzahasni. Rahmi Afuza Maulina. Annisa Rizky Fadlillah. M Suva Nugraha. Miftah Fakhri. Terimakasiihhh, semuaaaaaa :D

If I may say, it is sweet to remember how our journey was. Do you think so, heh?

*photos by Miftah Fakhri

Advertisements

5 thoughts on “Sepeda Selokan Mataram

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s