Kontribusi untuk Jogja

Ketika kecil orang tua saya suka mengajak bermain di luar ruangan. Sepulang sekolah sering mampir ke taman bermain dekat rumah untuk sekedar berayunan atau membuat istana pasir. Di akhir pekan, kami pergi ke museum atau sesekali pergi ke festival. Taman kota penuh oleh warga yang menikmati bunga bermekaran.

Karena kontrak yang mengikat, kami pindah ke rumah kakek di Seyegan.

Di sana hamparan sawah terbentang luas, air selokan mataram mengalir dengan deras dan jernih. Saya dan teman-teman suka lupa waktu ketika jam olahraga karena terlalu asik bermain di lapangan sepak bola samping sekolah.

Lagi-lagi kami harus mengemas semua barang ke Jombor. Di daerah dengan kolam dan sawah di ujung kampong. Tempat biasa saya mengagumi gagahnya Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Tapi itu semua tidak berlangsung lama. Everything has changed. Coba tanya Taylor Swift, kan dia juga setuju. KRIK.

Berhektar-hektar sawah telah berubah menjadi perumahan. Jalan Jombor-Seyegan berubah menjadi beton-beton yang dibangun secara massal. Sementara itu diperkotaan tumbuh hotel dan mall yang beralasan: untuk mengakomodasi kebutuhan pariwisata, peningkatan konsumsi. Blah.

Padahal salah satu ciri kota yang sehat adalah warganya yang berinteraksi di luar ruangan, kata Ridwan Kamil. Jogja kekurangan ruang terbuka hijau. Sebagai orang yang lebih suka berada di luar ruangan, saya merasa terhimpit.

Lalu diam saja gitu? Tunggu di Wiswakharman Expo bulan April 2014 yaaa. Dan produk realisasinya. Semoga. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s