Why?

Pada malam-malam yang mengantarkan lelap, terselip retorika yang masih kucari jawabannya. Bodoh memang mempedulikan hal yang tidak seharusnya berada di posisi satu.

Why should I care about you? Jika dengan hidupmu saja kamu bersikap acuh. Dibiarkannya apa yang sudah di genggaman terlepas begitu saja. Padahal kamu bisa mengambil yang terjatuh itu sendiri, tanpa perlu ada aku yang membantu. Tidak ada untungnya bagiku untuk merengek meminta sesuap nasi masuk ke lambungmu yang terbiasa mengunyah angin. Sampai perlu ada air mata hingga akhirnya kamu mengatakan iya.

Why do I always cry for you? Jika ini adalah pekerjaan yang melelahkan dan menyakitkan. Harus seberapa besar lagi bendungan yang dibuat untuk menahan air supaya tidak pernah keluar lagi dari mata. Buat apa juga ia mengalir deras keluar padahal tidak dapat menyelesaikan apa-apa. Aku dan kamu tetaplah bukan kita.

Why am I afraid of losing you? Jika memilikimu saja tidak pernah. Seharusnya aku tahu untuk hal ini hukum pasir berlaku. Semakin erat menggenggam maka butirannya akan jatuh. Butuh waktu lama untuk memungut satu per satu yang sulit terkumpul semua.

I should let this be.

*nggerus produktif*oke sip :|

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s