Letting Go

Empat purnama berlalu tanpa hadirmu. Walau ragamu di depan mata tapi hatimu sulit teraba. Kucoba membuka kembali lembaran masa lalu, mengapa kita terjebak dalam situasi seperti ini. Kita? Masih adakah kita di dalam aku dan kamu?

Salahku yang menganggap kita memiliki rasa yang sama. Salahku yang terlalu berharap padamu. Tapi salahku juga yang selalu mengungkit masa lalumu. Salahku yang hanya mengganggu hidupmu. Salahku yang ingin segera menyudahi semua urusan kita. Salahku yang tidak bisa menepati janji untuk selalu bersamamu. Katamu ketika itu: the one who say that will leave first.

Benar saja, aku menyerah lebih dulu. Karena aku takut jatuh cinta padamu… lebih dalam. Karena bayangan masa lalumu masih menghantui. Dengan berat hati, aku memilih pergi.

Aku tahu, seburuk-buruk masa lalu ia memiliki masa depan yang masih suci. Tidak ingin aku membiarkan kamu mengulangi lagi, tapi lihatlah apa yang terjadi kini. Satu lagi hati kamu buat luluh hanya dengan sekali sentuh. Lalu luka lamaku kembali menganga. Kejadian masa lalu terulang kembali. Kehilangan sahabat karena cinta yang menjerat.

Jadi kali ini aku saja yang mengalah. Biarkan aku merasakan cinta dan luka sendiri. Tidak perlu hiraukan aku, silakan lakukan apapun sesukamu semaumu. Tapi aku tetap peduli, karena kamu adalah teman yang tidak akan pernah terganti.

“Yaudah sih, bukan urusan kita juga kan dia mau gimana. Yang penting udah dikasih tau. Ya nggak?” kata seorang teman dalam sesi curhat panjang di studio.

Bagaimanapun apapun, Tuhan. Kehendak-Mu yang terbaik.

Advertisements

One thought on “Letting Go

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s