Kegelisahan di Ujung Perkuliahan

Ada perasaan gelisah ketika berada di ujung masa perkuliahan. Apa yang sudah di dapat dan dilakukan selama ini, bagaimana implementasi teori ke dalam karya, apakah hanya berhenti pada lembaran poster dan maket, bagaimana realisasi di kehidupan nyata. Apa yang akan diperbuat setelah kain toga disematkan.

Pada semester tua ini, saya merasa belum maksimal mendapatkan apa yang mau saya pelajari di kampus. Ada matakuliah yang jadwalnya berubah, jadi bertabrakan dengan matakuliah wajib. Atau materi yang ingin saya pelajari tidak ditawarkan di kampus. Walaupun bisa dipelajari sendiri, tapi lebih terarahkan kalau ada teman untuk berdiskusi #bukankode. Mungkin ada banyak lahan di luar sana yang menarik untuk saya tekuni, tapi kurang effort. Terlalu menghayati kegalauan sih dan l a m i s. My big mistake!

Lalu saya akan membanding-bandingkan antar sistem perkuliahan.

Beberapa bulan yang lalu, saya dan teman-teman melakukan workshop bambu dengan mahasiswa dari Sydney University. Dalam percakapan kami, mereka mengatakan kalau kuliah di sana hanya mengambil 4 matakuliah setiap semester dengan beban masing-masing 6 sks. Jadi tidak ada matakuliah yang ‘terpinggirkan’.

Ahya, teringat pada 1 tahun yang lalu ketika berkunjung ke National University of Singapore, Professor Indonesia yang menjadi dosen disana menjelaskan jika ada mahasiswa yang kurang maksimal dalam mendesain bangunan, maka akan diarahkan ke urban atau landscape. Jika masih belum tercapai targetnya, maka disarankan untuk mengarah pada penelitian.

Lalu seketika saya ingin pindah kuliah ke NUS saja. Haha, yakalik jah.

Sedangkan di kampus tempat saya kuliah, ada satu matakuliah yang diberi beban terbesar yaitu studio (6 sks) – implementasi teori di kelas kedalam desain. Desain bangunan sebagai focus utama, lalu urban dan landscape sebagai tambahan. Lalu matakuliah lain dilakukan di dalam kelas sebagai pelengkap. Berbeda ketika dosen saya menjadi mahasiswa, mata kuliah yang banyak menjadi kurang mendalam untuk dipelajari. Ini memacu mahasiswa untuk belajar sendiri di luar ruang kelas. Hap!

Tapi kurikulim perkuliahan tidak menjadi batasan untuk berkarya kan?

Dunia arsitektur itu begitu luas. Tidak melulu mengenai desain bangunan, ada banyak cabang yang bisa lebih di explore. Mas Hendro pernah bilang: beruntung kamu kuliah di Arsitektur. Bukan cuma belajar tentang mendesain bangunan, tapi kamu juga belajar untuk menjadi kreatif. Juga, pada masa pergantian kepengurusan Keluarga Mahasiswa Teknik Arsitektur, Bu Nia menyampaikan kalau modal kreatifitas yang dipunyai bukan hanya diterapkan di lembaran kertas, tapi juga bisa digunakan dalam mengelola event.

Entahlah, akhir-akhir ini masalah pendidikan sedang menguasai pikiran saya. Masih beruntung bisa kuliah, jah. Melihat sendiri kan waktu KKN, adek-adek di Papua bersemangat sekolah tapi tidak ada guru tidak ada kelas. Nahloo….

Jadi sekarang apa? Satset batbet deh :D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s