Heart Open

Masih asik berkutat dengan laptop, mbak mama datang menghampiri lalu bertanya tanpa tedeng aling-aling:

“Adik bakalan suka sama laki-laki nggak sih?”

Saya terkejut mendengarnya, berhenti mengetik, lalu tertawa terbahak-bahak.

“Menurut mbak, adik maho gitu?”

Pertanyaan sejenis itu sering mampir di telinga. Saudara, teman-teman suka penasaran siapa laki-laki yang sedang dekat dengan saya. Well, di umur 21 ini kebanyakan orang sudah pernah jatuh cinta. Apalagi masa SMA dimana pacaran, ngegebet kakak/adik angkatan adalah hal wajar. Tapi saya?

Bahkan saya tidak tahu jatuh cinta itu seperti apa.

“Masak sih dek nggak pernah suka sama laki-laki? Waa ini perlu dipertanyakan.”

“Tapi kehilangan pernah sih mbak. Padahal memiliki aja nggak pernah. Ahaha. Sampai sekarang masih nggerus kalau kenyataannya udah nggak kontak-kontakan lagi seperti dulu.”

Masnya, let me call him, adalah satu-satunya laki-laki yang pernah begitu dekat. Tapi itu juga jus paling nggak enak rasanya. Just friend. Wkwkw. Biasa aja sih -.- Tapi jadi dekat juga bukan karena suka, tapi ada alasan lain di luar sana. Haahuff….

Suva pernah bilang kalau bisa saja saya dideketin laki-laki, sering sms-an, telponan, suka senyam senyum sendiri, mata jadi berbinar-binar, trus ditembak seperti teman-teman perempuan saya itu. Silakan heran atau tertawa kalau seumur hidup saya belum pernah mengalami itu semua. Thanks.

“Kamu itu belum membuka hati aja, jah.”

Ha? Emang membuka hati itu seperti apa ya?

“Oh come on, dek. Jadi orang itu jangan terlalu polos dong.”

Agam pun pernah menasehati untuk berhati-hati dengan laki-laki, karena saya katanya adalah sasaran empuk untuk dibohongi.

I am afraid to be in love with someone, actually. Apalagi sama masnya yang emang menclok sana sini. Tapi kenapa saya menangisinya berbulan-bulan ya? Ups, semoga nggak ada yang tau kalau awal tahun kemaren mata sering bengkak. Hehehe.

“Adik suka sama masnya ya?”

“Ya nggak lah. Mana mungkin kan blablabla”

….

“Cuma mau mensugesti diri aja sih mbak sebenernya._.”

“That’s it. You deny your feeling.”

“Am I good at pretending something in front of many people, mbak? I think I have that ability. Hoho”

“Yes. But me and Mom know you well.” Kemudian mbak mama berandai-andai. “Atau sejak SMA mungkin aja ada orang yang suka sama adik loo. Kasih kode-kode gitu. Tapi adik menolaknya atau nggak sadar. Trus mundur deh.”

Kode? Ah ke yang lainnya juga gitu kook.

“Bilang aja terus nggak mungkin sama dia dia atau dia. Tapi itu keliataan kalau beneran atau nggaaak.” Mbak mama mulai gemes. “God can turn any situation just in a second, dek.”

“Mbak kok akhirnya mau sama dia sih mbak? Kan awalnya mbak mama nggak mau.”

“Apakah mbak cukup sempurna untuk mendapatkan orang yang sempurna? Akhirnya mbak sampai pada titik itu. Selama masih bisa mentoleransi perbedaan sih nggak masalah. Tapi logika harus jalan. Keadaan nggak bisa dipaksakan juga.”

Saya mendengarkan sambil membuka buku harian. Membaca cerita yang saya alami hari-hari sebelumnya.

Mbak mama kembali meracau. “Eh bisa jadi masnya juga suka sama adik loo. Dia gini gitu nganu kan? Who knows? Tapi sekarang kan udah nggak pernah kontak-kontakan lagi ding yaa. Yaah, nyesel deh kenapa sadarnya baru sekarang. Hahaha.” Mbak mama melirik nakal.

Saya hanya terdiam. She slaps me on the right place.

“Start to open your heart yaa.” Mbak mama beranjak ke belakang.

Should I? But, how?

 

 Tahun ini targetnya ngurus kuliah dan kerja

Ini mbak mama malah bikin buyar. Hedeh -_-

Baca juga ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s