In Between

Siang itu tak begitu terik, tapi gumpalan awan menjebak hawa panas yang membuat keringat bercucuran. Di sebuah kantor di kawasan perumahan, semua anggota tim duduk mengelilingi meja tengah. Masing-masing sudah siap dengan catatannya. Agenda pertemuan kali ini adalah evaluasi kegiatan hari Sabtu. Setelah semua mengemukakan pendapatnya, bapak bos menyampaikan rencana ke depan. Iya, ke depan dalam hitungan hari saja. Tanpa terasa, hampir 5 bulan proyek ini berlangsung. Aku tidak menyangka sudah berjalan sejauh ini dengan pemberontakan dan seok-seok mengikuti arus. Ketika mencapai titik yaudah-sih-emang-begini-jalannya, ternyata titik selanjutnya adalah berakhir.

Tentu saja aku senang bisa kembali pulang, tapi ada hal-hal yang berat untuk ditinggalkan.

Begitu juga ketika mendengar kamu akan melangsungkan sidang kelulusan pada bulan ini. Beberapa tahap sudah kamu lalui dengan perjuangan ini itu. Gugup ketika mempresentasikan karya akan berubah menjadi senyum mengembang menghias wajahmu seusai dosen menutup sidang hari itu.

Tentu saja aku senang kamu berhasil menyelesaikan bangku perkuliahan tepat waktu. Walaupun aku hanya bisa melihatmu dari foto-foto bertebaran di jejaring sosial, melihatmu ceria dengan beberapa ikat bunga dan puluhan sahabat yang mengelilingi, sudah cukup membuatku bahagia.

Tapi ada kesedihan yang menyelimuti diri. Bukan, bukan karena aku belum lulus sementara kamu sudah melenggang jauh disana. Kalau untuk urusan ini, aku memang memutuskan untuk berada di jalan yang berbeda. Semata karena aku tidak bisa berada di dekatmu. Ingin sekali menyaksikan detik-detik perubahan mimik wajah dalam sidang kelulusanmu. Masa bodoh dengan prosesi wisuda, itu hanyalah seremonial buang-buang waktu dan uang belaka. Bukankah perjuangan sesungguhnya lebih dari sekedar memindahkan tali toga? Juga setelah ini, tidak ada lagi curhat galau dan accidental trip. Sulit untuk menerima kenyataan bahwa kita akan terpisah oleh aktivitas yang mulai berbeda dan berubah. Entah bekerja, kuliah S2, atau menikah.

Inilah hidup yang kata orang ada pertemuan juga ada perpisahan. Tapi bolehkah jika kita dipertemukan kembali di masa depan, atau ditunda saja perpisahan ini sehingga aku bisa berlama-lama denganmu, atau sekalian saja tidak perlu ada perpisahan.

Bolehkah, Tuhan?

Advertisements

One thought on “In Between

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s