Kisah di Balik Buku Manyaifun

“Jah, nanti setelah pulang dari sini kita buat buku yaaa.” Kokoh antusias mengutarakan idenya, langsung disambut meriah oleh teman-teman lain. Beberapa teman yang sedang beristirahat segera bangkit dari tidurnya, mereka yang sedang membaca dan mengobrol rela mengalihkan topiknya menuju pembicaraan mengenai ide ini.

Ya, tentu saja perjalanan 55 hari di Manyaifun, sebuah pulau kecil di Raja Ampat akan lebih berharga jika bisa dibagikan ke khalayak yang lebih luas. Ada semangat menjalar dalam darah saya.

KPFT siang itu penuh oleh mahasiswa dengan tugas kuliahnya. Angin yang berhembus kencang membuat mereka harus berkejaran dengan kertas-kertas yang terbang. Kokoh, Fajar, dan saya (atau ada teman lain, lupa) mencoret-coret kertas menyusun konsep buku yang akan dibuat. Kami akan membekukan peluh perjuangan menuju ke sana serta detik-detik kebersamaan ke dalam rangkaian kata-kata. Berbagai macam alternatif kami diskusikan hingga mencapai sebuah keputusan untuk dibagikan ke teman-teman.

Awalnya saya merasa ragu, mengingat sepulang dari Raja Ampat masing-masing dari kami memiliki kesibukan tersendiri. Juga, keputusan membuat artikel secara kolaborasi oleh teman-teman yang berbeda jurusan. Bagaimana bisa menyatukan pikiran?

Ternyata Tuhan tidak mengingkari janji. Setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan.

Saya mencari-cari referensi hingga berlayar pada blog mbak Maharsi Wahyu Kinasih. Pengalamannya menuliskan kisah ke dalam catatan dokumenter, membuat saya ingin belajar darinya. Sebenarnya, baru sekali bertemu dalam kegiatan komunitas dan sepertinya akan sulit sekali untuk kembali menyapa.

Untitled

Dengan berbagai macam cara, akhirnya artikel-artikel dapat terkumpul semua walaupun mundur dari deadline yang ada. Kata demi kata terjalin rapi dengan untaian kenangan. 4 lembar A4 tidak akan pernah cukup untuk melukiskan semuanya. Benar saja, ada yang mengirim hingga 39 halaman. Bahkan ada yang memohon untuk tidak memotong cerita. Ditambah lagi, gaya bahasa yang berbeda dalam setiap artikel menjadi tantangan tersendiri untuk mencari benang merahnya.

Well, selamat menyunting naskah, para editor! Fyi, para editor ada yang sedang sibuk mengejar deadline skripsi, juga ada yang sedang student exchange ke Jepang.

Keraguan saya diawal mulai terbukti. Sungguh bukan perkara mudah untuk menyatukan 30 kepala ke dalam satu karya. Dengan hal-hal lain yang menjadi beban, saya kemudian menyerah. Membiarkan artikel teronggok begitu saja selama beberapa lama. Tidak saya pedulikan Fajar yang terus-terusan memohon untuk segera diselesaikan. Mega dan Pak Ragil turut membujuk.

Idealisme dan target yang saya pasang di awal pengerjaan, dengan berat hati harus saya turunkan. Terngiang-ngiang selalu kata Nita bahwa tanggung jawab yang sudah diamanahkan harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Pelan-pelan saya kembali membuka file untuk merapikan. Ini juga didorong oleh deadline lauching yang mengundang banyak orang. Mau tidak mau ya harus selesai. Atau dianggap selesai.

100 cetakan pertama (kalau tidak salah) sudah berpindah tangan ke media, UGM, dan tentu saja ke teman-teman yang menulis cerita di dalam buku. Bagi saya pribadi, ini bukan suatu karya (jika bisa disebut karya) yang memuaskan. Ada banyak kesalahan typo, pengulangan kata, kehilangan paragraph dan tata letak yang kurang enak dipandang.

Bagaikan mendapatkan sumber air di tengah gurun, Suva meminta file asli ke Fajar untuk membantu memperbaiki. Tetapi saya lupa kalau ada pepatah expectation is the root of all disappointment. Permasalahan teknis menjadi kendala, dan saya mengerti kalau deadline Tugas Akhir Suva berada dalam prioritas yang lebih tinggi.

Lagi-lagi saya menyerah. Lalu kembali teringat pada semangat teman-teman yang memberikan masukan dan komentar untuk perbaikan. Ditambah lagi, Fajar mengatakan jika buku ini akan dijual secara umum. Kondisi saya yang sedang magang di Jakarta membuat ingin pecah kepala. Sungguh ingin menangis memeluk mereka satu-satu sambil meminta maaf.

Sabtu siang, saya sedang mengantar keponakan imunisasi. Dering handphone berbunyi. Di ujung sana ada mas-mas dari penerbit yang ingin bertemu di kantornya di Jatipadang. Ia hanya punya waktu sampai pukul 4 sore.

Tanpa bekal apa-apa selain google map, saya pacu motor menuju ke sana. Mas Itok yang menjadi penanggung jawab menjelaskan proses pembuatan buku. Mulai dari naskah masuk, editing tulisan, konsep buku, layouting, hingga siap untuk didistribusikan ke toko buku. Saya rasa, buku yang kami buat masih sangat jauh dari kualitas itu bahkan ketika sudah memasuki revisi yang terakhir. Memahami bahwa ada quality control dari penerbit, maka buku yang kami buat akan disesuaikan dan diolah oleh pihak penerbit. Sampai tahap ini, saya sudah lepas kendali.

Di grup chat, Fajar memberitahukan kalau buku yang kami perjuangkan bersama selama lebih dari 1 tahun sudah bisa dibeli di Gramedia Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, dan Jayapura. Saya tidak tahu apa yang dilakukan Fajar dan teman-teman sehingga ini semua bisa terjadi. Oh tentu saja ada ‘tangan tambahan’ yang Tuhan siapkan. Yang pasti, sekecil apapun kontribusi akan sangat berarti dalam penerbitan buku ini. Uang satu juta tidak akan menjadi satu juta kalau kurang seratus rupiah kan?

Semoga buku Manyaifun: Jejak Kaki di Ujung Timur Negeri bukan sekedar pelampiasan kami untuk mengenang kisah tak terlupakan. Lebih dari itu, kami sungguh berharap buku ini mampu dijadikan pelajaran dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Selamat membaca!

sampai sekarang saya belum melihat dan membaca buku ini yang dijual di Gramedia.

akan segera dilakukan~

Advertisements

5 thoughts on “Kisah di Balik Buku Manyaifun

  1. aku juga belum baca buku yg baru, cuma sekilas liat ketika Mega bawa buku itu :)
    selamat ya, sudah bisa mewujudkan amanah besar dan semoga apa yang kamu (dan teman-teman) mulai dengan kerja keras bisa jadi benih manis buat semuanya. keren sekalI!

    sampai ketemu di Jogja, :)

  2. Ini ijah adiknya mama bukan sih? Anak bu Nurbani?
    Gag sengaja nemu blog ini dari laman blog lain yg kamu sebut di post diatas,
    Eh mama udah ada yg meminang atau nikah belum sih? #ah apa-apa ini malah nampang kepo disini, maapken

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s