If I Graduate

Tanpa mengurangi rasa kebahagiaan atas kelulusan teman-teman, saya merefleksikan apa yang terjadi selama 3 hari ini. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi yang sebagian besar bersebrangan dengan orang kebanyakan. Jadi saya meminta maaf jika ada yang sakit hati. Sedikit sindiran boleh ya. Heheh.

Tanpa keragaman tidak akan ada rasa toleransi dan saling menghargai kan?

Tiga hari terakhir ini membuat saya berpikir ulang dalam memaknai kelulusan. Apakah harus sama seperti kebanyakan orang?

Jika perubahan jadwal wisuda membuat pusing kepala. Harus rearrange jadwal cuti dan keberangkatan orangtua. Oh tentu saja, pengajuan cuti kantor memang harus disampaikan jauh-jauh hari sebelumnya. Juga mengenai tiket keberangkatan yang tidak bisa dibatalkan seenaknya. Ada uang yang tidak bisa kembali dan belum tentu dapat tiket sesuai keinginan. Because your mom and dad would be the first people who are proud of your graduation, they love to see you wearing that jubah hitam dan topi kotak. Alhamdulillah, saya tinggal satu kota bersama ibuk bapak. Naik motor 15 menit sudah sampai kampus. Untuk permasalahan kehadiran orangtua, well, saya pikir mereka lebih memilih mengajar murid-muridnya yang bandel dari pada melihat anaknya dari ujung ruangan sana ketika dikasih ijazah oleh dekan.

Ahya, rearrange jadwal salon dan foto studio. Pardon for our girls life, boys. Tapi apakah saya bisa masuk dalam kelompok perempuan yang perempuan ya? Ada keraguan berlebih ketika temans bilang: jah, aku  mau lihat kamu besok pas wisuda dandan kayak gini. Dang!! I don’t want to put those thick make up on my face. Berlapis-lapis krim, foundation, alas bedak, bedak, blush on, lip stick warna, lip balm, eye shadow, eye liner, bulu mata palsu, mascara. Eh tapi sekarang sudah ada krim muka yang sudah mencakup semua ya? Whatever. Selanjutnya, alas kaki. Berdasarkan pengamatan selama 3 hari kemarin, tidak menemukan wisudawan memakai flat shoes atau sneakers. Sungguh terkesima ketika melihat mbak-mbak bisa pakai hak tinggi dan kecil lalu berjalan dengan lancar bahkan berlari. Hey, bukankah tidak baik ya memakai sepatu jinjit terlalu lama? Ahelah jah, tidak perlu mencari pembenaran kalau memang tidak bisa pakai alas kaki hak tinggi bahkan untuk berdiri. Selanjutnya, kerudung. Allah, ampuni kami yang mengreasikan kerudung dengan berbagai hiasan sehingga ada punuk besar di belakangnya, yang rela menarik kerudungnya ke leher sehingga lekuk tubuh menjadi terlihat. Sungguh, ini demi hari bahagia kami.

Lalu Ulfah berceletuk, “Emang siapa sih yang menyuruh dandan kayak gitu? Ada peraturan dari kampus po? Aku takut e kalau jadi berlebihan.”

If putting those make-up is to make you look more beautiful, may I define my own beauty, ma’am, sir?

Foto studio, ya? Hmm, punya teman fotografer kan? Ada penyewaan tripod kan? You get my point.

Hal terakhir yang membuat galau sebagian orang, yang menjadi guyonan bagi jomblo ngenes. Pendamping wisuda. Sekali merengkuh dua tiga pulau terlampaui. Prosesi wisuda menjadi tempat memperkenalkan pacar ke orangtua. Eeww, saya merasa agak vulgar ketika menyebut kata pacar. Menemani dandan, merapikan toga, membantu memasangkan topi, mengelap keringatnya, membawakan barang-barangnya, memfotokan dia bersama teman-temannya. How care you are. But would you please introduce your girl/boyfriend to us? To your friend. As a kind of respect to her/him that s/he is there. Supaya pacar kamu tahu teman-temanmu seperti apa jadi nggak bakal mikir aneh-aneh. Supaya kami tidak bertanya-tanya (si)apa nih yang dibawa-bawa.

Ah tapi sudah pasti ayah akan murka ketika saya memperkenalkan… let me say it once more, pacar. Ayah mana yang rela anak perempuannya terlibat dalam hubungan yang belum pasti masa depannya?

Wait. Kamu kan tidak punya pacar, jah.

Last but not least, the crowd. Menurut tes psikologi, saya termasuk orang yang ekstrovert. Tapi mengapa tidak pernah betah berada di tengah-tengah keramaian? Maka saya lebih sering memilih mojok dan menyendiri. Yang paling penting adalah orangtua yang bangga dan selalu mendampingi malah justru diabaikan karena wisudawan sibuk berfoto dengan teman-temannya. Terlihat juga dari pengunjung ruang informasi yang sebagian besar adalah keluarga wisudawan dengan muka putus asa.

To sum up, saya sangat malas untuk ikut prosesi wisuda.

Kan ada kebanggan sudah menyelesaikan kuliah jadi wajar dong kalau begitu. Again, me and my family have our own definition about pride and we don’t like celebration that much.

Nanti kalau ditanyain anak kamu tentang wisuda kamu mau jawab gimana hayo?

Maka saya berharap bisa menjawabnya dengan “ibumu sehabis sidang pendadaran sudah dapat kerja. Jadi ketika wisuda ibu sedang sibuk di kantor supaya bisa menabung untuk masa depan kamu. Biar bisa sekolah yang tinggi, kita bisa jalan-jalan keliling dunia. Apalagi kakek nenekmu itu yang jadi guru. Di tangan mereka dititipkan nasib anak-anak bangsa. Masak ya mau ditinggal untuk menghadiri sebuah perayaan.”

Beberapa hal memang perlu dipikirkan secara jangka panjang. Jangan sampai ada ego dan gengsi yang terlalu tinggi dan kebahagiaan hanya berlangsung sesaat.

Anyway, happy graduation all. Semoga ilmunya bermanfaat. Selamat menempuh jenjang kehidupan yang baru. Good luck! Karena sarjana akan mendapat pertanyaan segera setelah lulus mau ngapain? A. bekerja   B. kuliah S2  C. menikah

Pesan dari ibuk: besok kalau sudah selesai pendadaran, daripada nganggur mending cari-cari pekerjaan sederhana kalau belum dapat yang mantep. Nggak usah gengsi buat jadi sopir, pelayan toko, bantu dosen, apapun deh. Mau les, mengembangkan hobi, bersih-bersih rumah juga tidak masalah. Yang penting jangan berhenti untuk terus produktif.

Eh tapi itu pesan ibuk saya untuk anak-anaknya ding. Heheh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s