Antara Saya dan Arsitektur

16 hari menjelang deadline, saya justru pergi meninggalkan studio. Bukan karena semua produk sudah selesai, tapi saya sedang mencoba berdamai dengan keadaan. Wk. Lebay amat. Ada yang tidak terhubung dengan baik antara diri saya dengan arsitektur. Semakin saya menuju akhir perkuliahan justru semakin banyak pertanyaan tentang artsitektur: antara idealisme desain yang dibawa dengan hal-hal mengenai diri desainer. Itu salah satunya.

Seperti tentang pembicaraan mengenai pembuatan maket beberapa hari lalu. Kami membicarakan tentang maket seperti apa yang berasal dari bahan daur ulang atau lebih bagusnya lagi bisa didaur ulang. Karena selama 7 semester studio dan berkali-kali membuat maket, pada akhir semester selalu ada pengumuman dari studio bahwa jika maket tidak diambil maka akan dibakar.

Kemana konsep sustainable yang dibanggakan dalam desain? Bahkan  sekarang tiap bangunan harus sustainable juga, ya? Belum lagi berlembar-lembar kertas yang diprint dan hanya dipakai 1 sisi saja.

Hal-hal sesederhana itu menjadi pertanyaan dalam diri saya, yang justru semakin menggebu-gebu ketika berada di box kotak putih dingin dan canggih itu.

Pada rentang waktu hampir 75 hari di sana, saya justru lebih tertarik mengamati pola perilaku teman-teman ketimbang mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan. Mulai jam berapa studio ramai, kemudian apa yang segera mereka kerjakan, jam berapa berbondong-bondong keluar makan –biasanya brunch-, kemudian sektiar jam 14.00 menjadi ribut dan tidak fokus, seberapa banyak waktu antara jam 08.30-15.30 yang digunakan untuk mengerjakan tugas akhir, kemudian tempo bekerja yang semakin cepat mejelang deadline. Juga hal-hal mengenai alasan jurusan memutuskan untuk ‘mengurung’ mahasiswa tingkat akhir dan juga produk harus mendesain bangunan.

Maka orang-orang seperti saya akan sangat terseok-seok selama proses pengerjaan tugas akhir. Saya bermimpi terlalu tinggi jika tempat kampus saya kuliah bisa meniru perguruan tinggi terbaik di Singapore. Dalam kunjungan beberapa tahun lalu, bapak profesor menjelaskan bahwa jika ada mahasiswa yang tidak bisa mendesain bangunan, maka akan diarahkan pada urban desain, atau pilihan lain. Jika tidak sanggup juga maka akan diarahkan ke penelitian. Hal ini dilakukan agar mengurangi angka drop out sehingga pemerintah tidak mengurangi subsidi pendidikan untuk kampus tersebut.

Urgensi apa yang dimiliki kampus saya sehingga misalnya kelak akan menerapkan hal itu. Toh drop out ‘hanya’ mengurangi nilai akreditasi. Atau ada hal lainnya tapi saya tidak tahu ya? Hm.

Kemudian kuliah teori itu hanya sebagai hiburan jika bosan dengan bangunan. Bagi saya sih hiburan, tapi sepertinya sebagian besar lain malah menganggap petaka. Padahal dari sana bisa muncul bibit-bibit bagus seperti: pada TKA menjadi desain grafis, mahasiswa Sejarah Arsitektur Nusantara, Pengelolaan Kawasan Pusaka, Arsitektur Vernakular justru ada di garda depan dalam menjaga kekhasan negeri. Kuliah kritik arsitektur adalah pengantar untuk menjadi penulis arsitektur.

Tapi ya itu, walaupun banyak juga dosen yang tidak menjadi arsitek sebuah biro, kuliah disini berorientasi merancang bangunan. Maka orang-orang seperti saya yang berminat pada ‘cuma 2 sks’ itu, silakan mendalami sendiri dan berjuang untuk mendesain bangunan.

Dan saya clueless untuk belajar sendiri. Juga sangat clueless apalagi dalam mendesain bangunan.

Entahlah, toh saya tidak pernah bercita-cita menjadi arsitek. Tapi juga tidak menyesal berkuliah di sini. Mungkin saja saya tidak akan menyelesaikan kuliah jika bukan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas apa yang sudah dimulai. Tapi sekedar menyelesaikan saja tidak cukup. Perlu diikuti dengan kata baik-baik. Sehingga menyelesaikan dengan baik-baik akan meninggalkan jejak dan kesan yang juga baik.

 

Arsitektur bermakna luas. Setelah selesai menyunting kembali tulisan di atas, rasanya saya bukan berdebat dengan arsitektur tapi lebih kepada sistem yang saya ikuti untuk mempelajari arsitektur. Oh bukan, saya tidak menyalahkan sistem, toh tiap-tiap kampus sadar atau tidak sadar mempunyai goal untuk mencetak lulusan seperti apa. Dalam hal ini, sistem memegang pernanan penting. Dan saya perlu banyak menyesuiakan diri dengan sistem tersebut yang akan segera saya akhiri pada awal bulan depan.

Btw, berat amat yak judulnya..

Advertisements

One thought on “Antara Saya dan Arsitektur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s