Jaman Edan

Saya sudah menuliskan draft cerita cinta remeh temeh untuk dimuat di blog ini. Belum sempat masuk ke tahap editing, adik angkatan menghubungi bahwa ia sudah di kampus untuk mengembalikan tas gunung.

Tidak lebih dari 5 menit saya ada di kampus. Saya ambil tas besar itu sambil berpikir kapan lagi bisa menggendong beban berat, berada di antah berantah, melebur dengan lingkungan, merasakan hidup. Saya mengingat kembali manisnya kehidupan di masa lalu. Tapi kini pikiran pesimis lebih mudah menguasai diri saya tiap kali ke kampus.

Entahlah, saya menghabiskan waktu 2 tahun terakhir di perkuliahan dengan hal-hal yang kurang menyenangkan. Mulai dari hubungan pertemanan yang membingungkan, urusan KKN yang tidak pernah usai, dan yang terakhir mengenai tugas akhir yang membuat saya benar-benar kelelahan. Bukan secara fisik, tapi secara mental dan hati nurani.

Saya memang butuh banyak belajar mengenai desain arsitektur dan perlu memahami lebih mengenai esensi arsitektur. Tapi hal-hal tidak semestinya yang terjadi di depan mata membuat saya ingin segera mengakhiri perkuliahan. Saya sudah sampai pada batas limit berada di sini maka saya lebih sering pergi keluar kampus dan bertemu dengan orang-orang baru dengan cara kerja yang baik-baik saja. Permasalahan yang bertumpuk-tumpuk membuat saya semakin malas dan menjalani sisa perkuliahan ini dengan seadanya. Hanya sebagai syarat untuk lulus meraih gelar sarjana. Menyedihkan sekali yaa saya semudah itu putus asa.

Saya tidak menyesali jalan yang saya pilih seperti ini, tapi saya bisa selamanya mengutuk diri sendiri mengapa diam saja dan tidak berani mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada drama penghujung perkuliahan ini.

Mengutip bait terakhir Jangka Jayabaya:

140. polahe wong Jawa kaya gabah diinteri
endi sing bener endi sing sejati
para tapa padha ora wani
padha wedi ngajarake piwulang adi
salah-salah anemani pati

142. pancen wolak-waliking jaman
amenangi jaman edan
ora edan ora kumanan
sing waras padha nggagas
wong tani padha ditaleni
wong dora padha ura-ura
beja-bejane sing lali,
isih beja kang eling lan waspadha

(sumber)

Jadi ya begitu.

Dan percayalah ini adalah 2 atau 3 tulisan terakhir yang berisi tentang kegelisahan diri dan pesimistis mengenai kuliah di sini.

P.S: Tulisan ini sudah pernah dipublish di blog ini pada awal Desember. Tapi saya hapus karena satu dan lain hal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s