2015 review

Bahkan sebelum kembang api meletus di angkasa, saya sudah bersiap untuk menuliskan review sepanjang tahun 2015. Namun, kata-kata tidak semudah dahulu untuk dituliskan, terlebih saya tidak banyak menemukan catatan keseharian di jurnal pribadi.

Secara garis besar, hidup saya pada 2015 dihabiskan pada dua hal ini.

Magang di LabTanya

Bapak Gede Khresna adalah alasan pertama saya mendaftar. Dalam sebuah poster yang tersebar di jejaring sosial, beliau akan menjadi salah satu pihak yang terlibat dalam proyek magang ini. Kesempatan bertemu dengan sosok yang baru bisa saya kagumi dari dunia maya seolah-olah terbuka. Ditambah lagi TOR magang sejalan dengan kelelahan saya terhadap desain bangunan. Walaupun begitu, saya tidak memiliki ekspektasi yang tinggi untuk diterima. I just fill the requirements as best as I can.

Bom! Bapak Ibuk saya terkejut mengetahui bahwa saya yang sudah memasuki tahap pertama tugas akhir, harus menunda kelulusan hingga semester depan. Kesedihan bapak ibuk semakin lengkap ketika kedua anak perempuannya ‘pergi’ dari rumah secara hampir bersamaan.

Tak dapat dipungkiri, saya merasakan ketakutan yang berusaha diredam. Meninggalkan kanyamanan Jogja untuk berbagi oksigen di tengah sesaknya Jakarta. Masupi selalu memecut saya dengan berkata: you have to survive by your own self. Mantra itu mengantarkan saya kemana-mana dan melakukan apa-apa. Yaa nggak sendirian amat juga sih. Wk.

Kesempatan magang 5 bulan ini membuka banyak hal yang selama ini tertutup di kehidupan saya. Merasakan sekelumit dunia kerja yang tarik ulur antara idealisme dan realitas, antara kantor dan keluarga.

foto oleh: LabTanya
foto oleh: LabTanya

Ada perasaan terharu ketika sepulang dari magang, beberapa teman yang tidak cukup dekat menanyakan kabar hingga berujung pada diskusi seru. Tapi juga ada perasaan sedih sehingga malas ketika kembali menginjakkan kaki di kampus karena harus menghadapi situasi itu yang masih saja belum berubah.

But life must go on.

Tugas Akhir

Saya sudah lupa bagaimana isi tugas akhir tahap 1 yang saya kerjakan revisinya sambil magang. Sangat ngos-ngosan karena bimbingan melalui email dan telpon. LDR sungguh menyiksa. Hah. Hingga akhirnya dengan bantuan Arga yang super baik, tugas akhir tahap 1 bisa terkumpul tepat waktu.

foto oleh: dedek 2015 pakai kamera yayank
foto oleh: dedek 2015 pakai kamera Yayank

Memasuki tahap 2 dan tahap 3 bukan hal yang mudah bagi saya. Tahap 1 telah terbengkalai beberapa bulan pasca pengumpulan padahal akan dipakai sebagai bekal pengerjaan tahap 2 dan tahap 3. Ditambah lagi, pengerjaan hanya boleh dilakukan di dalam ruangan kotak putih dingin dan canggih seolah-olah ‘dikurung’. Saya yang bukan anak indoor, sejak awal sudah menolak kondisi lingkungan yang akan dihadapi. Terbukti ketika masa pengerjaan tugas akhir selama 4 bulan, saya tidak betah dan sering keluar masuk ruangan. Tapi hal ini cukup memberikan gambaran menjadi ‘anak kantoran’ kelak. Proses perancangan yang menantang dan permainan hati nurani yang memuakkan, saya tidak memasang target nilai tinggi. Hanya cukup mendapatkan euphoria sementara, sesaat setelah bapak dosen menutup sidang tahap 3-paling akhir. Saya yang hampir putus asa, tidak menyangka bahwa saya bisa menyelesaikan tugas akhir.

Keesokan hari, saya mulai dibingungkan dengan langkah kaki selanjutnya.

Dan Hal Lainnya

Hari-hari diisi dengan berbagai kegiatan menyenangkan dan menambah wawasan, semoga. Terlibat dalam proyek dosen menjadi tim surveyor sehingga bisa keliling jogja, mengetahui kondisi lapangan dan cerita-cerita di baliknya, jalan jauh, terbakar matahari, kehujanan, ditawarin MLM di masjid lalu gagal berbohong. I do really enjoy this. Termasuk ketika mengikuti seminar jurnalistik pada H-1 minggu deadline tugas akhir. Ketika teman-teman lain (mungkin) sibuk mempersiapkan maket, saya justru ancang-ancang untuk hal lainnya. Agak gila memang, tapi belum seberapa ketimbang kenekatan saya untuk mendaftar part-time job di Bentang Pustaka ketika masa pengerjaan tugas akhir.

Saya ingin melakukan banyak hal, disibukkan dengan berbagai macam aktivitas sehingga energi negatif tidak kembali menghampiri saya.

Artha mewanti-wanti bahwa tugas akhir sudah menyita pikiran. Tapi saya ngeyel. Ternyata Bapak HRD yang ‘menampar’ saya ketika sesi wawancara tidak (belum) mengizinkan saya untuk bergabung dalam timnya. Saya tidak menyebut ini sebuah kegagalan karena saya bisa merefleksikan apa-apa tentang diri saya. Juga ketika keinginan saya untuk kembali menghilang dari dunia kampus dengan mendaftar program pertukaran pelajar, ternyata semesta tidak mengamini.

6699
foto oleh: Irvan

Sebagai ganti karena ingin ‘sibuk’ dan juga persiapan untuk langkah selanjutnya,  saya mengikuti kelas sore sepulang pengerjaan tugas akhir. Sungguh merupakan oase karena tiap hari ilmu-ilmu baru diserap, guyonan bodoh saling terlontar, memanjat pohon alpokat,  obrolan ngalor ngidul sembari menunggu hujan reda. Pertemanan yang terjalin akrab sejak pertama kali bertatap.

Pun senada dengan kegiatan menjadi relawan pengajar. Bertemu dengan anak-anak adalah suatu kebahagiaan karena semangat dan keingintahuan mereka yang membuat saya malu sendiri. Bertemu dengan teman-teman relawan yang kooperatif dan menyenangkan, bahkan sampai sekarang masih keep in touch.

foto oleh: Zaki
foto oleh: Zaki

Tahun 2015 adalah tahun perbaikan diri. Sudah saya cukupkan dalam meratapi kebodohan dan kesedihan sepanjang tahun 2014. Walaupun kenangan akan the good old times terkadang masih suka menghampiri, tapi kata mas Keane, everybody’s changing. So I have to face it. Ada banyak hal baik lain di luar sana yang bisa dijelajahi jadi teruslah memperbaiki diri.

Tahun 2015 adalah tahun pertemanan. Bertemu dengan berbagai macam orang-orang baru dengan beragam pemikiran. Terjalin kembali dengan orang-orang yang pernah mengisi hari. Walaupun arah dan tujuan sudah berbeda, tapi silaturahmi harus tetap terjaga. Jangan malah sok-sok jadi stranger trus pura-pura nggak kenal. Eh.

Tahun 2015 adalah tahun kebimbangan mengenai keimanan dan love life. But it would be better if I keep it for myself.

Karena dalam beberapa hal, saya lebih memilih berjalan dalam diam.

So 2016, surprise me!

 

*maafkan atas kualitas gambar yang tidak maksimal. Hasil share2an di grup soalnya :(

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s