Menulis Lagi

Satu akun yang rajin saya intip di linimasa Twitter adalah milik M. Aan Mansyur (@hurufkecil). Ia kerap me-retweet orang-orang yang membahas tulisannya. Menilik lebih jauh, saya menemukan tulisannya ada di sini. Cerita yang disampaikan beberapa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dilihat dari tanggal publikasinya, ia termasuk jajaran rajin memproduksi tulisan.

Hal ini mengingatkan saya pada suatu hari.

Ibu saya pernah bilang ketika saya mengadu tentang writer’s block, “materi yang mau ditulis itu sebenarnya banyak. Hal-hal sederhana apapun. Cuma kurang jeli aja.” Ayah saya sering memotong ocehan saya yang susah berhenti dengan berkata, “kalau cuma cerita sih bakal lupa. Mbok ya ditulis.”

Sebagai informasi, kedua orang tua saya bukan penulis yang menerbitkan buku. Pun juga bukan kontributor website atau majalah. Bahkan tidak punya buku harian sekalipun. Saya belum lancar baca tulis, ketika ayah saya mendorong kami –Masupi, Mbak Mama, dan saya untuk mencatatkan segala hal yang kami alami di negara saudara jauh Indonesia. Bahkan hingga sekarang, setelah hampir 20 tahun, ia tidak berhenti untuk mendorong saya untuk tetap menulis karena saya satu-satunya yang dengan gembira merangkai kata-kata. Ayah saya sampai menunjukkan buku perjalanan haji milik temannya, buku harian tentara perang Jepang –yang ternyata sahabat baik kakek saya, sambil berkata, “nanti tulisanmu kalau dikerjakan serius bisa jadi seperti ini.” iya, saya memang punya cita-cita untuk membukukan tulisan saya yang entah apa. Atau setidaknya membacakan buku harian saya sekarang kepada anak cucu kelak.

Saya iseng membuka riwayat tulisan yang dipublikasikan di sini. Tanpa membukanya sekalipun, saya sangat menyadari bahwa produktifitas menulis semakin menurun. Jangankan tulisan yang dipublikasikan, bahkan saya tidak tahu letak buku harian yang dulu selalu diisi dengan apapun yang terlintas di kepala. Saya merasa sangat payah, mencari alasan kesibukan mahasiswa akhir, deadline kerjaan, kehilangan seorang muse sebagai dalih untuk berhenti menulis.

Di tengah keadaan sebagai job-hunter, saya mencari tahu apa yang akan saya perjuangkan dalam hidup yang sangat singkat ini. Keinginan untuk memilih tempat kerja yang berbeda dari kebanyakan teman membuat saya sering meragukan keputusan yang diambil. Walaupun masih dapat terus berkembang.

Pada suatu sore di bulan Desember, kami berjalan menuju motor yang terparkir di halaman kampus. Seorang sahabat yang akhirnya ‘bertemu’ lagi setelah sekian lama tiba-tiba mengatakan.

“Buatin buku dong.”

“Buku apa?”

“Apapun, terserah.”

“Berarti kamu nggak beneran pengen dibuatin buku.”

Tidak tahu apakah ini hanya basa-basi pemecah keheningan atau permintaan yang serius lalu saya jawab saja sekenanya. Sekarang saya baru menyadari untuk jadikan ini sebagai trigger  menghasilkan tulisan sejelek apapun itu sampai menjadi lebih baik. Bukan untuk dia yang sekarang ada di belahan dunia lainnya tapi untuk saya sendiri yang akan menyerahkan draft pertama tulisan untuknya. Eeaakkk -_-

*hey, bahkan menuliskan ini saja merupakan sebuah pencapaian bagi saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s