Independent or Dependent Woman

I never define myself as an independent woman. But, my friends keep asking me to be dependent woman. Supaya ada laki-laki yang tertarik pada hati yang kering sejak 272 bulan terakhir, katanya.

Beberapa teman yang mengalami keseharian dan beberapa peristiwa bersama sering melontarkan kata-kata seperti: “Beri ruang bagi laki-laki untuk melindungi.” Atau “Kasih kesempatan untuk laki-laki menolong.”

Saya tidak memahami sepenuhnya tentang konsep yang dimaksud teman saya dengan laki-laki yang melindungi dan menolong. Tapi apakah saya tidak boleh pergi sendiri membeli perlengkapan pertunjukan sementara ia masih banyak pekerjaan lain? Haruskah saya diam saja ketika teman laki-laki saya tidak bisa menggergaji kayu?

Ada pemikiran yang saya pegang bahwa perempuan pun harus bisa –atau setidaknya mencoba mempelajari hal yang dianggap pekerjaan laki-laki. Seperti memanen buah dan menebang pohon, memperbaiki motor, atau juga melakukan pekerjaan konstruksi. Hasil cuci otak ayah ibuk saya, sih.

Sungguh, hingga saat ini saya tidak percaya bahwa laki-laki tertarik pada perempuan karena seringnya minta tolong atau kemana-mana harus berdua.

Malam itu, kami menghadiri acara perpisahan. Sambil melirik ke teman perempuan saya, teman laki-laki saya berbisik, “jah, kamu mbok manja-manja kucing kayak itu tu loo.”

Saya terkejut karena 3 hal. Pertama, saya tidak bisa membayangkan diri saya bersikap manja-manja kucing. Kedua, ternyata teman laki-laki saya pun menyuruh saya menjadi anak manja. Ketiga, jika memang manja-manja kucing membuat laki-laki tertarik, saya memang tidak pintar dalam menjalin hubungan.

Tapi bukankah menikah adalah tentang kerja sama? Dua individu unik dengan potensi masing-masing terlibat mewujudkan cita-cita bersama, bekerja dengan jobdesc nya masing-masing. Jika satu pihak sedang terpaksa absen, maka pihak lain menguatkan diri atau mengambil alih.

Ibuk saya selalu berpesan untuk bisa menghidupi setidaknya untuk diri sendiri, untuk bisa melanjutkan hidup walaupun susah. Kalau pasangan harus keluar kota atau tiba-tiba meninggal, po ya harus ikut juga? Itulah mengapa, ayah saya berkata “ibuk ki istimewa, kok.”

Maka dari itu, saya tidak memahami sepenuhnya tentang konsep yang dimaksud teman saya dengan manja-manja kucing.

Ketika mengalami masa-masa kelam, seorang teman tidak pernah berkata: yang sabar yaa. Tapi ia menutup curhat panjang dengan,

“Boleh kok kamu bersandar sama seseorang. Tapi pastikan kamu bisa tegak berdiri kalau pas harus sendiri. Kalau nggak, dia geser dikit kamu kejengkang.”

Oh, I know. “Because you still lock your heart,” said a good friend of mine.

 

 

Advertisements

One thought on “Independent or Dependent Woman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s