Melakukan Pekerjaan Ideal

Salah satu pertanyaan template yang ditanyakan orang-orang dewasa kepada anak usia SD adalah “Kalau sudah besar, mau jadi apa?”. Belasan tahun lalu, sambil memegang erat baju ibuk, saya menjawab malu-malu, “Guru.” Satu-satunya jenis pekerjaan yang saya tau dengan pasti karena bapak ibuk juga menjadi guru.

Ketika mulai mengenal jenis pekerjaan lain, saya ingin bekerja paruh waktu sebagai loper koran. Tentu saja ditolak mentah-mentah oleh orang rumah. Saya menangis di dalam kamar ala anak labil SMP. Rasa kecewa segera terobati. Serial film Perang Dunia II, Band of Brothers, menumbuhkan ambisi saya untuk menjadi dokter perang. Modal saya kumpulkan ketika SMA dengan mengikuti Palang Merah Remaja. Tapi kemudian saya tersadar. Jangankan seleksi masuk militer yang ketat –tinggi dan bentuk badan saya yang tidak sesuai kriteria, untuk menghafal istilah dalam pelajaran Biologi saja saya kesulitan.

Entah mengapa kemudian saya kuliah di Arsitektur.

Masa-masa muda dilalui dengan jalan-jalan, jajan, hura-hura. Tidak pernah berpikir akan menjadi apa kelak setelah lulus. Sampai pada saat mata kuliah Teknik Komunikasi Arsitektur, Pak Mario selaku dosen memanggil beberapa orang untuk maju ke depan kelas. Bersama beberapa teman, saya diberi pertanyaan: berapa lama lagi mau lulus, lalu setelah lulus mau apa. Mereka menjawab mau bekerja di konsultan A, melanjutkan kuliah di B, saya menjawab, “Saya mau ikut Indonesia Mengajar, pak.” Masih jelas teringat raut wajah terkejut Pak Mario. “Selain itu?” Saya mencari-cari jawaban. “Mmm, mau menulis tentang arsitektur.” Kemudian, saya dipersilakan duduk terlebih dahulu karena materi yang akan dibahas adalah tentang portfolio desain arsitektur.

Ada teman mengonfirmasi kesungguhan jawaban saya. “Asal jawab aja. Hahah.” Tapi sepertinya itu suara dari alam bawah sadar saya karena sedang mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan kepenulisan dan pendidikan.

Saat menjadi relawan pengajar di komunitas Book for Mountain, saya mendapat tugas untuk memperkenalkan berbagai jenis profesi. Dari mulut anak-anak yang memiliki antusias berlebih, mereka meneriakkan dokter, tentara, pilot, pengacara ketika saya bertanya ingin menjadi apa mereka kelak. Ada satu anak yang menjawab, “Aku mau buka bengkel, mbak.” Teman-temannya tertawa. Saya bingung bagaimana menanggapinya tapi tidak boleh membunuh harapan yang terpancar dari sinar mata anak itu karena toh menjadi tukang bengkel juga pekerjaan halal.

Terkadang, profesi tertentu dianggap sebagai standar sukses sehingga pekerjaan sederhana tidak pantas untuk dijadikan cita-cita. Atau banyak juga anggapan jika bekerja 8-5 adalah pekerjaan ‘mesin’. Padahal jika ditilik lebih dalam, semua pekerjaan itu penting. Anies Baswedan pada wawancara Satu Indonesia mengatakan kalau semua orang membayar pajak, lalu siapa yang akan mengurusi pajak.

Begitulah. Menentukan satu pekerjaan untuk dilakukan selamanya memang sulit, terutama untuk orang-orang seperti saya. Banyak hal keren yang ingin dilakukan. Bukan untuk mengejar ‘sukses’ dan ‘menginspirasi’, kata yang (terlalu) sering dijadikan bahan jualan buku dan seminar motivasi. Namun, untuk kembali mengingat tujuan manusia, menjadi pribadi yang bermanfaat melalui berbagai cara.

Terlambat 1 hari dari janji rajin publikasi tulisan tiap Sabtu. Jadi Sabtu/Minggu aja deh..

Advertisements

One thought on “Melakukan Pekerjaan Ideal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s