2017 review

Kehidupan pasca kuliah sangat nanonano. Ada pilihan bekerja atau mengambil kuliah S2 atau menikah. Dengan segala pertimbangan serius dan konyol, saya memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu. Sepanjang 2016, memasukkan lamaran pekerjaan sana sini, gagal berkali-kali. Dibarengi dengan mencari kesibukan mulai dari membantu kakak angkatan penelitian S2, jadi LO di Pusat Studi di Fisipol, menulis artikel psikologi, ikut workshop kepenulisan, mengajar anak-anak Bahasa Inggris. Saya suka melakukan semua itu walaupun sangat random tapi apapun yang ada di depan mata samber aja. Sulit untuk menjawab pertanyaan dari kerabat tentang sudah lulus belum kerja dimana. Alhamdulillah di akhir 2016, mendapatkan apa yang orang bilang ‘real job’ sesuai dengan bidang yang saya gemari.

Awal 2017 saya bersiap melesat di tempat kerja baru. Layaknya naik roller coaster, pada awal tahun kecepatan kereta masih pelan. Kadang ke kantor hanya setor muka dan numpang internetan. Berbulan-bulan dihantui pertanyaan: “apakah begini potret pegawai di pemerintah daerah?  Apa yang dimaksud ketika beliau berkata kinerja kita diukur dari serapan dana?” Saya mencoba memahami dan bertahan. Mulai bulan Maret, berbagai pekerjaan sudah dimulai dan perlahan menanjak. Setelah lebaran, seperti dilepas dari puncak tertinggi roller coaster. Kecepatan penuh, belok kanan kiri, muter 360 derajat. Tidak ada jeda. Ingin teriak dan meledak.

But that was great. Ternyata Yogyakarta sangat kaya –punya peninggalan struktur, bangunan dari zaman pra sejarah sampai kemerdekaan. Selain tentang softskill yang memang terus dipelajari sepanjang hidup, saya belajar tentang bagaimana menangani dan mengelola bangunan cagar budaya. Jika ada kesempatan entah dimanapun itu, ingin sekali tahu lebih banyak dan mendalaminya. But there is also time when I have my heart broken working here. Urusan administrasi birokrasi makes me crzay. Sistem yang kaku. Kebiasaan tidak pantas yang terus terjadi di depan mata. Ide-ide yang hanya berhenti di kepala dan pembicaraan sambil lalu. Is this how love-hate relationship feels like?

Walaupun begitu, walaupun peraturan kontrak 2018 berubah dan diberitahu pada hari terakhir kontrak 2017, toh saya tetap memperpanjang. Ada alasan serius dan konyol di balik keputusan ini. Butuh cara baru untuk menjalani hari di 2018 supaya bisa melihat bigger picture, supaya tidak hanya terjebak pada rutinitas, supaya les Bahasa Inggris yang seharga gaji sebulan membuahkan hasil, supaya berkembang mindsetnya.

Hm, bahas kerjaan saja sudah 350 kata, 4 paragraf. Tapi memang di tahun 2017, pikiran dan tenaga tercurahkan ke kerjaan. Kalau perasaan tercurahkan kemana, jah? Dalam setahun, jalan-jalan 2 kali. Ke hutan pinus Imogiri dan diajak ke Bintaro. Kedua perjalanan itu dilanjutkan dengan saya terkapar sakit. Ketika diinfus, merasa achievement unlocked. Lol. Ahya, bertemu lagi dengan teman-teman lama –ngobrol dan curhat dan ketawa dan galau dengan lepas. Berkenalan dengan banyak orang baru.

Cukup sekian. Bingung menutup tulisan ini pakai kalimat apa. But this picture from Sarah Andersen sums up my life.

sumber: di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s