2019 review

Blog ini lama-lama hanya menjadi tempat untuk mengulas satu tahun terakhir. Dalam tahun 2019 ini pun, tidak banyak mengabadikan momen baik melalui tulisan maupun foto. Tunggu dulu. Saya baru saja membaca ulang buku harian untuk mengecek apakah saya melewati 2019 begitu saja.

Seperti yang saya duga 6 Februari 2019 pukul 05.37, tahun 2019 akan berlalu in a blink of an eye. Kantor lama terkena penyusutan organisasi, jadi kami bergabung dengan kantor pusat dan terjadi perombakan habis-habisan staf dan pejabat. Saya akhirnya mendapatkan bos baru yang alhamdulillah bisa membaca gambar, RAB, RKS, dan paham lapangan. Sering heran dengan lokasi penempatan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan/atau keahlian. Saya tidak ingin memikirkan ini terlalu jauh, tapi ya inilah kenyataannya dan saya hanya bisa menerima.

Satu tahun ini juga belajar banyak tentang berjuang dan melepaskan.

Berjuang untuk bangun tidur dan merasa baik-baik saja, menjalani hari tanpa pikiran yang berlebihan. Saya mendapat banyak pertolongan dari konsultasi ke psikolog. Tentang menyadari apa yang terjadi sehingga tidak mudah reaktif yang merusak diri sendiri dan orang lain. Teorinya gampang tapi nyatanya saya masih ngegas kalau sedang capek, banyak kerjaan, mau menstruasi, kolega banyak nyinyir. Harusnya saya tetap tenang merespon. Ini hal yang terus menerus saya latih, walaupun sering gagal lalu berakhir mengutuki diri sendiri.

Eh nggak boleh. Mbak psikolog juga menyarankan untuk mengapresiasi diri sendiri, sekecil apapun itu pencapaiannya. Oh heyheey, akhirnya saya berani pergi ke mall sendiri untuk nonton film dan ternyata tidak masalah. Malah justru lebih enak sendirian dari pada bersama orang lain yang bikin nggak nyaman. Di tahun ini pula saya mulai berani mengalahkan tuntutan agar terlihat bagus dan sempurna ketika membuat animasi stopmotion, gambar atau apapun itu. Yang penting mulai aja dulu, bebaskan, dirutinkan. Saya sempat mengikuti kelas mendongeng dilanjutkan menjadi panitia Awicarita Festival di Rumah Dongeng Mentari. Semacam melakukan kembali hal-hal yang disukai tapi sempat terlupakan karena aktifitas monoton setiap hari.

Saya tidak ingin membicarakan banyak hal tentang kantor tapi kok ya hidupnya habis di kantor. Merasakan stagnan dengan rutinitas yang sudah paham polanya. Pindah ke kantor pusat berarti semakin banyak orang berarti kemungkinan gesekan semakin besar. Di penghujung tahun saya terjerumus dalam drama kantor yang kekanak-kanakan. Sakit hati, sedih sampai pusing dan mual. Sungguh buang-buang waktu kalau terlalu lama tenggelam dalam masalah ini. Jadi saya memilih untuk mempersilakan mereka melanjutkan dramanya, saya caw.

Gosip-gosip kantor yang berhembus dari dinding, bapak bos yang lucu tapi justru saya banyak belajar dari beliau. Kehidupan di kantor beserta orang-orangnya memberikan banyak hikmah. Baik yang supportif maupun yang seperti Dementor yang menyebabkan saya semakin pemilih untuk menjadikan mereka tempat bercerita. Saya sudah 3 tahun berada di sini. Kalau SMP, SMA, udah lulus lalu melanjutkan ke jenjang berikutnya. Tapi sekarang saya mau kemana? Saya tidak lolos berkali-kali dalam seleksi kerja dan mulai mencoba-coba hal lain. Iseng tapi serius (ini bahasanya om Pinot, my online hero). Nggak papa belum terlihat hasilnya, nikmati prosesnya. Usahanya dipolke, jah.

Saya masih gagal menjadi orang dewasa, memahami kehidupan yang adaa aja benang kusutnya. Merelakan hal-hal yang tidak bisa saya ubah tapi saya bisa mengubah bagaiman saya memandang hal-hal tersebut. Demi hidup yang lebih damai.

2019 ini saya berpikir ulang dan mendapatkan pandangan baru tentang hidup. Entah dari film, obrolan dengan teman, tulisan di sosial media (iya, tahun ini saya sedikit baca buku). Dulu sempat berkeinginan untuk menaklukkan dunia, tapi sekarang lebih ingin memanfaatkan apa yang saya punya untuk memberikan dampak baik walau hanya sedikit. I am so lucky to have all of this opportunity. Jadi don’t take this for granted.

People change, ya. Ini juga yang sedang saya pelajari untuk nrimo. Termasuk nrimo bahwa apa yang saya rasakan, pikirkan, dan yakini bisa jadi tidak selamanya.

Sungguh ulasan ini tidak runut dan lompat-lompat sekali dan terlalu malas untuk menyunting. Sudah yaa bye!  Mungkin ketemu lagi di ulasan 1 dekade. We’ll see.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s