Memakai Otak

“Ntar lama-lama kamu juga terbiasa, jah.”

Di atas motor dalam perjalanan menuju kantor pusat, seorang teman menanggapi keluhan dan protes saya terhadap kerjaan. Masih ingin ngeyel tapi hanya menghela nafas. Selanjutnya, perjalanan kami ditemani kebisuan.

Satu bulan kemudian saya teringat dengan kata-kata itu, seolah memecut jiwa dan pikiran yang sudah mulai ‘terbiasa’. Ketakutan yang pernah dirasakan satu bulan lalu, kembali menyeruak. Ketakutan karena terbiasa dengan pola hidup yang konstan, otak yang jarang dipakai untuk berpikir kritis, berkreasi, inovasi, dan ketakutan karena terbiasa dengan kenyamanan yang tidak membuat diri ini berkembang.

Ah, mungkin berbagai ketakutan itu hanya ada di pikiran saya saja, padahal hal yang ditakutkan tidak benar-benar terjadi. Bisa jadi.

Lalu, nekat mengikuti kursus dengan dalih mempersiapkan masa depan. Padahal belum ada rencana jelas juga sih mau ngapain. Usai pertemuan pertama, saya menertawakan kebodohan sendiri. Sungguh, selama ini dipakai untuk apa otak saya? Terbiasa bekerja secara otomatis seperti mesin, kali ini mencoba menaruh kesadaran penuh terhadap hal-hal yang saya lakukan di kantor.

Teman saya duduk terdiam dengan tatapan kosong, “Kok aku baru sadar, 40% dari aktifitas kita di kantor tu urusan administratif ya.”

“Serius 40%? Lebih dari 50% kalik.” Saya menimpali dengan sinis. Urusan administratif yang sulit untuk mengikuti perkembangan zaman dan hal-hal sepele yang merepotkan. Bureaucracy drives me crazy. Tapi menyalahkan sistem tidak ada pengaruh yang signifikan juga, sih.

Maka, saya harus bekerja lebih keras selagi masih muda. Untuk rajin membaca berita dan tulisan bagus, nonton film yang nggak cuma bikin baper doang. Untuk menyerap ilmu pengetahuan dan belajar social skills. Untuk berkarya dalam bentuk apapun. Untuk berbagi agar hidup menjadi berarti.

Supaya setidaknya, saya bisa meredam ketakutan yang menguasai kepala.

Shout out to my friends yang namanya disembunyikan. In case you read this, karena yaaa kita kan saling kepo. Thanks for making me think and laugh. I am so grateful having you both throughout the working day.

Melakukan Pekerjaan Ideal

Salah satu pertanyaan template yang ditanyakan orang-orang dewasa kepada anak usia SD adalah “Kalau sudah besar, mau jadi apa?”. Belasan tahun lalu, sambil memegang erat baju ibuk, saya menjawab malu-malu, “Guru.” Satu-satunya jenis pekerjaan yang saya tau dengan pasti karena bapak ibuk juga menjadi guru.

Ketika mulai mengenal jenis pekerjaan lain, saya ingin bekerja paruh waktu sebagai loper koran. Tentu saja ditolak mentah-mentah oleh orang rumah. Saya menangis di dalam kamar ala anak labil SMP. Rasa kecewa segera terobati. Serial film Perang Dunia II, Band of Brothers, menumbuhkan ambisi saya untuk menjadi dokter perang. Modal saya kumpulkan ketika SMA dengan mengikuti Palang Merah Remaja. Tapi kemudian saya tersadar. Jangankan seleksi masuk militer yang ketat –tinggi dan bentuk badan saya yang tidak sesuai kriteria, untuk menghafal istilah dalam pelajaran Biologi saja saya kesulitan.

Entah mengapa kemudian saya kuliah di Arsitektur.

Masa-masa muda dilalui dengan jalan-jalan, jajan, hura-hura. Tidak pernah berpikir akan menjadi apa kelak setelah lulus. Sampai pada saat mata kuliah Teknik Komunikasi Arsitektur, Pak Mario selaku dosen memanggil beberapa orang untuk maju ke depan kelas. Bersama beberapa teman, saya diberi pertanyaan: berapa lama lagi mau lulus, lalu setelah lulus mau apa. Mereka menjawab mau bekerja di konsultan A, melanjutkan kuliah di B, saya menjawab, “Saya mau ikut Indonesia Mengajar, pak.” Masih jelas teringat raut wajah terkejut Pak Mario. “Selain itu?” Saya mencari-cari jawaban. “Mmm, mau menulis tentang arsitektur.” Kemudian, saya dipersilakan duduk terlebih dahulu karena materi yang akan dibahas adalah tentang portfolio desain arsitektur.

Ada teman mengonfirmasi kesungguhan jawaban saya. “Asal jawab aja. Hahah.” Tapi sepertinya itu suara dari alam bawah sadar saya karena sedang mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan kepenulisan dan pendidikan.

Saat menjadi relawan pengajar di komunitas Book for Mountain, saya mendapat tugas untuk memperkenalkan berbagai jenis profesi. Dari mulut anak-anak yang memiliki antusias berlebih, mereka meneriakkan dokter, tentara, pilot, pengacara ketika saya bertanya ingin menjadi apa mereka kelak. Ada satu anak yang menjawab, “Aku mau buka bengkel, mbak.” Teman-temannya tertawa. Saya bingung bagaimana menanggapinya tapi tidak boleh membunuh harapan yang terpancar dari sinar mata anak itu karena toh menjadi tukang bengkel juga pekerjaan halal.

Terkadang, profesi tertentu dianggap sebagai standar sukses sehingga pekerjaan sederhana tidak pantas untuk dijadikan cita-cita. Atau banyak juga anggapan jika bekerja 8-5 adalah pekerjaan ‘mesin’. Padahal jika ditilik lebih dalam, semua pekerjaan itu penting. Anies Baswedan pada wawancara Satu Indonesia mengatakan kalau semua orang membayar pajak, lalu siapa yang akan mengurusi pajak.

Begitulah. Menentukan satu pekerjaan untuk dilakukan selamanya memang sulit, terutama untuk orang-orang seperti saya. Banyak hal keren yang ingin dilakukan. Bukan untuk mengejar ‘sukses’ dan ‘menginspirasi’, kata yang (terlalu) sering dijadikan bahan jualan buku dan seminar motivasi. Namun, untuk kembali mengingat tujuan manusia, menjadi pribadi yang bermanfaat melalui berbagai cara.

Terlambat 1 hari dari janji rajin publikasi tulisan tiap Sabtu. Jadi Sabtu/Minggu aja deh..

Independent or Dependent Woman

I never define myself as an independent woman. But, my friends keep asking me to be dependent woman. Supaya ada laki-laki yang tertarik pada hati yang kering sejak 272 bulan terakhir, katanya.

Beberapa teman yang mengalami keseharian dan beberapa peristiwa bersama sering melontarkan kata-kata seperti: “Beri ruang bagi laki-laki untuk melindungi.” Atau “Kasih kesempatan untuk laki-laki menolong.”

Saya tidak memahami sepenuhnya tentang konsep yang dimaksud teman saya dengan laki-laki yang melindungi dan menolong. Tapi apakah saya tidak boleh pergi sendiri membeli perlengkapan pertunjukan sementara ia masih banyak pekerjaan lain? Haruskah saya diam saja ketika teman laki-laki saya tidak bisa menggergaji kayu?

Ada pemikiran yang saya pegang bahwa perempuan pun harus bisa –atau setidaknya mencoba mempelajari hal yang dianggap pekerjaan laki-laki. Seperti memanen buah dan menebang pohon, memperbaiki motor, atau juga melakukan pekerjaan konstruksi. Hasil cuci otak ayah ibuk saya, sih.

Sungguh, hingga saat ini saya tidak percaya bahwa laki-laki tertarik pada perempuan karena seringnya minta tolong atau kemana-mana harus berdua.

Malam itu, kami menghadiri acara perpisahan. Sambil melirik ke teman perempuan saya, teman laki-laki saya berbisik, “jah, kamu mbok manja-manja kucing kayak itu tu loo.”

Saya terkejut karena 3 hal. Pertama, saya tidak bisa membayangkan diri saya bersikap manja-manja kucing. Kedua, ternyata teman laki-laki saya pun menyuruh saya menjadi anak manja. Ketiga, jika memang manja-manja kucing membuat laki-laki tertarik, saya memang tidak pintar dalam menjalin hubungan.

Tapi bukankah menikah adalah tentang kerja sama? Dua individu unik dengan potensi masing-masing terlibat mewujudkan cita-cita bersama, bekerja dengan jobdesc nya masing-masing. Jika satu pihak sedang terpaksa absen, maka pihak lain menguatkan diri atau mengambil alih.

Ibuk saya selalu berpesan untuk bisa menghidupi setidaknya untuk diri sendiri, untuk bisa melanjutkan hidup walaupun susah. Kalau pasangan harus keluar kota atau tiba-tiba meninggal, po ya harus ikut juga? Itulah mengapa, ayah saya berkata “ibuk ki istimewa, kok.”

Maka dari itu, saya tidak memahami sepenuhnya tentang konsep yang dimaksud teman saya dengan manja-manja kucing.

Ketika mengalami masa-masa kelam, seorang teman tidak pernah berkata: yang sabar yaa. Tapi ia menutup curhat panjang dengan,

“Boleh kok kamu bersandar sama seseorang. Tapi pastikan kamu bisa tegak berdiri kalau pas harus sendiri. Kalau nggak, dia geser dikit kamu kejengkang.”

Oh, I know. “Because you still lock your heart,” said a good friend of mine.