Semarang: spontaneous roadtrip

“Besok weekend ke mana nih? Kok pengen ke luar kota ya?”

“Semarang yok!”

“Yaudah yok!”

Semarang, 4 Mei 2013

Sabtu, 4Mei 2013

Pintu kamar kos membuka. Wajahnya masih berbentuk bantal, matanya belum terbuka lebar. Dia hanya meringis sambil melihat jam. 06:30. 30 menit terlambat saya menjemputnya. Setelah 1 jam dihabiskan untuk sholat subuh, mandi, mengambil laudry karena baju habis, dan minta sarapan di rumah saudara, perjalanan Jogja-Semarang akan ditempuh. Sejauh 130 km roda motor membawa kami menuju petualangan yang memberi banyak pelajaran. Agar suatu hari nanti langkah-langkah kecil ini mengantarkan pada pribadi yang senantiasa penuh rasa syukur.

*ini masih teaser*

Merapi Pagi Hari

Kalau sedang berada di Yogyakarta carilah Gunung Merapi dan disanalah letak sisi utara. Itu adalah clue paling mudah ketika kebingungan mendengar penjelasan letak suatu tempat. Orang Yogyakarta memang suka memberikan petunjuk jalan dengan arah utara, timur, selatan, barat.

Kali ini saya putuskan untuk menuju ke utara. Setelah pulang dari masjid, keinginan untuk menikmati langit pagi dengan semburat orange harus diwujudkan. Sesaat sebelum pergi, mbak Mama berteriak: dek, mbak ikut. Tapi nebeng, adik yang di depan.

Sepanjang perjalanan, kami berdua berteriak-teriak karena langit begitu indah dan Merapi terlihat berdiri gagah. Ditambah perpaduan suhu dingin yang membuat kaki, tangan dan muka membeku. Bodoh memang. Sudah tahu suhu dibawah 20 derajat malah pergi ke dataran tinggi menemui Merapi.

Beruntunglah, karena masih pagi kami tidak perlu membayar jasa portal yang dijaga oleh warga di setiap desa. Tapi ketika kami memarkirkan motor karena pekewuh akibat ada plang: ojek 20.000, bapak warga sekitar malah menyuruh untuk membawanya sampai atas. Mumpung yang jaga tiket belum datang, kata beliau.

Dan sampailah kami di ujung jalan yang bisa dilalui kendaraan. Selanjutnya adalah rute pendakian, sepertinya. Ah, saya rindu dengan perjalanan yang kita lalui bersama. Ini bukan galau. Tapi bukankah alam sering mengajak kita untuk diam merenung dan bermain-main dengan pikiran masing-masing?

Disana saya lebih banyak menikmati setiap momen yang ada daripada menyimpannya di kartu memori kamera.

DSC04727

DSC04720

DSC04726

DSC04721

DSC04732

Rasanya ingin berlama-lama disini dan tidak mau beranjak dari suasana yang menghadirkan kedamaian. Suatu saat nanti semoga bisa melanjutkan perjalanan hingga ke puncaknya.

Bridges

Jembatan Boyong
Jembatan Boyong

 

Jembatan Karet
Jembatan Karet

 

Jembatan Blawong II
Jembatan Blawong II

 

Jembatan Prahon
Jembatan Prahon

 

Ini adalah beberapa jembatan gantung di Jogja sebagai akses utama penghubung antar desa. Dengan panjang 40an meter dan lebar tidak sampai 1.5 meter membuat jembatan ini goyang-goyang ketika dilalui. Jangan harap bisa berlama-lama memandang sungai yang mengalir di bawahnya seperti yang biasa dilakukan muda-mudi di jembatan kali code. Karena sempit maka harus segera melewatinya kalau tidak mau kecebur sungai atau disrempet bapak-bapak pembawa rumput. Lalu jadi serba salah. Mau lari tapi jembatan tidak stabil, mau jalan biasa tapi si bapak ngejar-ngejar pakai motor. Saya akui, beberapa lokasi jembatan itu memang enak untuk leyeh-leyeh.

Ha yasudah setidaknya agak-agak tau sedikit tentang jembatan. Say hallo to cable stay, cross frame, truss, post-tention, tiang penggantung, kabel angin, momen, sling baja, and friends! XD