Parangtritis in The Morning

DSC04501

Selepas sholat subuh dan mendengarkan ceramah yang lebih mirip dongeng pengantar tidur, saya dan Mbak Mama memilih untuk memacu motor ke arah selatan. Ada yang bilang udara pagi di pantai baik untuk kesehatan paru-paru. Benar saja. Angin yang menerpa wajah memberikan kesegaran yang menenangkan.

DSC04391

Disana ada pasir pantai yang terlihat bersisik akibat terkena angin sepanjang malam. Di pagi hari, masih bisa menemukan pemandangan pasir seperti ini yang belum terusak oleh jejak kaki atau tapal ban kendaraan.

DSC04419

Ada suara debur ombak yang membuat pagi semakin sunyi. Ada pasang surut air yang menelan segala yang ia mau.

DSC04427

Nelayan  dengan sabar menunggi kailnya bergoyang pertanda ikan didapatnya. Mungkin saja bagi si nelayan memancing lebih menyenangkan daripada menggunakan kail walaupun hasil tangkapan bisa jauh lebih sedikit.

DSC04442

How I really love the sky. Tidak ada satupun yang bisa menandingi keindahan lukisan Allah.

DSC04456When there are peace and comfort then I call it home.

 

Parangtritis,  16 Juli 2013

Malam yang Lalu

Saban II Merbabu
Sabana II Merbabu

Tidak seperti malam sebelumnya yang kita habiskan bersama, malam ini terasa ada yang berbeda. Walau kanyamanan ditawarkan, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan hangatnya kehadiranmu disini.

Malam semakin larut. Angin meniupkan dingin dari lembah dekat tempat kita berkemah. Kamu dan aku masih bertahan di atas matras, menunggu momen yang tepat untuk mengabadikan taburan bintang yang tersebar di langit. Ditemani secangkir susu coklat hangat yang kamu buat, kita berbagi peluk dalam sebuah sleeping bag.

Tidak peduli udara yang menusuk tulang, kamu tidak pernah menyerah pada keadaan demi sebuah tujuan. Di atas bukit sana ada pemandangan lebih bagus, katamu. Kamu sinari jalan dan menunjukkan tempat terbaik untuk membekukan waktu. Aku sedang beruntung, katamu lagi. Ada cengkrama yang memecah keheningan malam, sinar berjalan di bukit seberang, dan kita yang tak henti mengucap syukur.

Sudah yuk, ajakmu kembali ke peraduan. Tapi justru apa kamu lakukan? Berjalan sendiri menuju puncak. Tidak ada yang mendampingi, hanya teman sejak 1 menit yang lalu. Kita habiskan sisa malam dengan bercerita segala macam tentang hidup, tentang impianmu di masa depan. Sesekali kita tertangkap saling bertatap dalam gelap.

Ketika mata mulai menggelayut, kamu tasbihkan doa-doa panjang pengantar tidur sambil membelai lembut rambutku. Tak berapa lama kudengar dengkur halus, menyaingi suara angin yang menerpa tenda. Tidurmu terkadang berotasi layaknya bumi. Terkadang diam bagai bayi. Kamu berikan bahumu untukku bersandar. Dan terbangun lalu tersenyum sambil bertanya: belum tidur? Aku hanya menggeleng. Kemudian kamu mengajakku pergi ke dapur, mengusir dingin pada sisa-sisa kayu yang terbakar. Ah, tapi bagiku kehangatan adalah ketika kita saling menyimpan kita di hati masing-masing.

Terimakasih untuk malam-malam penuh kenangan dan tak bisa tergantikan. Mungkin saja kita tidak dipertemukan setiap saat agar bisa merasakan rindu yang merasuki kalbu.

Kamu dan aku adalah majemuk yang telah melebur jadi satu.

see all Suva’s great shots here

while listening momori-bebi romeo covered by rendy pandugo