Kerasukan Rahmi Suva

Pada suatu hari Kamis, 28 Maret 2013 saya terjebak seharian dengan dua manusia bernama Rahmi Afuza Maulina dan Mochammad Suva Nugraha. Alkisah …

Pukul 7 ada kuliah SK4 latihan UTS openbook. Oke, lumayan lancar. Keluar dari kelas, ada pembicaraan: mau kemana nih? // Nglanggeran yuk! // Serius? // Iya, habis Teori langsung cus kesana. //

Kami ngobrol-ngobrol dulu di kampus. Membicarakan mau makan dimana. Oh, sebagai anak rumahan tentu saya hanya manut karena sudah sarapan. Yaudah ke rumah Ijah aja // hek? // iyaa, ke MCD Jombor. Melajulah motor kami ke MCD Jombor. Well, ini baru pertama kalinya saya masuk, padahal jarak dengan rumah dekat sekali. Iya, anak rumahan. Ibuk masak terus setiap hari.

Rencananya hanya mau beli McFlurry, tapi tergiur dengan Pancake-nya. Melihat harga yang mahal, saya agak keberatan. Benar saja. Untuk kantong yang tidak didesain untuk jajan di luar, dan rasanya yang hmm, terlalu banyak soda kue atau baking powder, tipis. Sudah cukup sekali saja. K E C E W A. kalau boleh membandingkan, pancake atau waffle sejauh ini paling juara di Foodfezt Jakal.

Next, ke rumah. Mereka ngepo buku harian saya dan meminta untuk membacakan salah satu catatannya. Dan saya bacakan yang ada cerita tentang mereka. Belum cukup, rebutan kunci lemari yang menyimpan buku-buku harian saya. Sambil makan brokoli goreng, mereka masuk ke kamar Masupi dan mainan kereta -_-

Pukul 11. Malas kuliah Teori Arsitektur. Tapi toh berangkat juga. Terlambat. Ngawang-ngawang. Tidak focus. Syalala~

Ke kosan Suva ambil kamera dan mager. Tapi demi ketidaklamisan, berangkat kami ke Nglanggeran. Jajan dulu di Alfamart, sholat Ashar dulu, mengisi perut di warung. Yak, Rahmi mulai curcol. Mager lagi. Ah, tapi ini hari semakin sore. Ayo kita naik saja.

Ketika sama Beta dulu, waktu tempuh sampai puncak sekitar 2 jam lebih. Tapi ini kenapa sama mereka cepet banget? Kira-kira 1 jam sudah sampai di puncak walaupun salah jalan sampai ke Sumber Comberan. Etapi, Rahmi muntah dulu di perjalanan. Kenapa ya? Ayok ayok semangat. Katanya habis display mau ke gunung yang tinggi.

545282_4907126789529_458059272_n

Di puncak tidak lama, hanya foto-foto sebentar lalu turun, karena sudah gelap dan hanya ada satu senter. Bagus. Mau tahu apa yang terjadi pada kami? Setelah melewati pos 3, salah memilih jalan. Justru melewati turunan batu yang terjal. Feeling sudah tidak enak gitu. Lalu kami memutuskan untuk kembali ke pos 3. Di tengah perjalan ibu Hary Warsini menelpon putrinya, Rahmi. Di akhir pembicaraan, Rahmi bilang: buk doain yaa biar cepet pulang. Lanjut naik lagi. Tapi sepertinya kami sudah mulai melewati jalan yang benar. Kembali lagi ke percabangan tempat Rahmi ditelpon. Hak, ternyata pos 2 hanya didekat sana. Alhamdulillah. Perjalanan lancar sampai kembali ke parkiran. Makanya, jangan menunda sholat maghrib yang selanjutnya dijamak.

526529_4907171510647_1629776550_n
lubang awan tempat UFO mau mendarat di bumi
599313_4907144709977_1684344371_n
lalu membuat jaringan listrik menjadi kacau

Wo o o, ternyata Suva sudah di sms oleh Fika. CIYEE. Mau asistensi, Suva menjanjikan maghrib. Yakalik, kami baru turun. Sampai Jogja, sampai rumah Nita, mintak makanan, Suva ngasistensi Fika, saya Rahmi nge-bully Fika. Wahaha :))

Hek, setelah selesai malah diajak ke Djenelo Café. Bro, ini sudah jam 9 wooy -_- tapi tetep aja saya mau. Hot chocholate, milk coffee, ice chocholate menemani kami ngobrol. Tumpah ruah semua isi hati Rahmi. Meledak saya dan Suva untuk menjedor-jedorkan Rahmi. Sampai jam 11 malam. Sampai disodori bill. Sampai cafenya tutup.

Sampai saya menyadari kalau dua orang itu benar-benar merasuki hidup saya :)))

488308_4907134069711_1652934972_n

photos are taken by Suva. as usual.

Gunung Api Purba Nglanggeran

Saya merasa lelah dengan teknologi. Dengan menatap layar jarak dekat dan semakin lama semakin membosankan. Terbayang beberapa hari lagi kuliah yang mengharuskan untuk berlama-lama di depan laptop. Sebelum segala macam serangan dimulai, saya butuh refreshing!

Jari-jari memencet tombol HP yang dikirim ke sahabat lama. “culik aku dooonggg. Plliisss” Beberap saat Hanum mengabarkan kalau ia sedang menjelajah di Gombong. Dan Beta balik bertanya: sido Nglanggeran ra? Tapi jam 10an yoo.

Yeay, jadi siang itu saya dan Beta berboncengan menuju kearah Gunung Kidul. Setelah bukit bintang lalu ada Polres Patuk di kanan jalan, ambil kiri. Ikuti saja jalannya hingga melewati banyak pemancar TV. Perjalanan masih jauh. Temukan dulu puskesmas di dekat pertigaan, lalu belok kanan. Tidak perlu takut kesasar, karena ada banyak petunjuk jalan menuju Nglanggeran.

DSC03746

Nglanggeran adalah sebuah desa yang terdapat gunung api purba. Gunung api ini berupa bebatuan dengan kemiringan yang cukup menguras tenaga. Bukan, ini karena saya yang sudah jarang olahraga. Haha. Ditambah lagi musim hujan menyebabkan tanah dan batu yang dipijak menjadi sangat licin. Untung saja terdapat tangga serta pegangan yang dapat menolong. Tidak butuh waktu lama untuk mencapai puncak. Sekitar 2 jam sudah dapat menikmati pemandangan yang luar biasa. Rumah-rumah yang terlihat kecil, jalan menuju kota, hamparan sawah dan pepohonan luas sekali, dan gunung lainnya di seberang sana.

DSC03758a

DSC03760

DSC03761

DSC03789

Merasakan semilir angin yang menggoda, obat mata paling keren sedunia! Rasanya ingin berlama-lama berada di atas sana. Tetapi, info mengenai memilih dosen studio merusak suasana. SMS bertubi-tubi masuk ketika sinyal sudah tidak terhalang pepohonan dan batuan. Akhirnya kami memutuskan untuk turun. Bukan karena kepikiran kuliah, tapi hari sudah semakin mendung. Yak, benar saja. Hujan turun seiring dengan kami yang menuruni gunung. Walaupun membawa mantol, tetapi kami memilih untuk berteduh di pos. Terimakasih kepada karang taruna yang mengelola ini semua. Termasuk tong sampah di beberapa titik. Ya, walaupun sampah-sampahnya belum dibawa turun, sih.

DSC03794_2

 

DSC03802_2

 

DSC03831

Sedihnya, beterai kamera saya habis. Sehingga tidak maksimal dalam mengabadikan pemandangan yang jauh lebih bagus kalau dinikmati langsung. Ah, sudahlah …

DSC03812

 

DSC03828

Sampai jumpa di jalan-jalan berikutnya :D

Sepeda Selokan Mataram

Setelah perjalanan Sabtu, 3 November 2012 dan mendapatkan supply foto dari Miftah, Kiky dengan segera memposting di blognya. Nggak mau kalah dong yaaa, saya juga mau cerita tentang 5 orang yang bersepeda menyusuri selokan Mataram dari UGM sampai di hulunya, Kali Progo. 

Bertemu dengan mereka di Jalan Magelang. Menjadi anak rumahan agak tidak bersahabat untuk pergi kluyuran, sebenarnya.

Rutenya? Ikuti saja aliran selokan. Ketika itu kami melawan arus air.

Dari jembatan teknik UGM nyebrang Jalan Monjali, nyebrang Jalan Magelang, nyebrang Jalan Kabupaten, nyebrang ringroad, nyebrang Jalan menuju Godean, nyebrang jalan KebonAgung, hingga menemukan SMP 2 Tempel.

Mulai dari situ, jalan aspal berubah menjadi offroad. Sebenarnya bisa sih belok ke selatan tapi kami butuh tantangan. haha. Kasihan Suva sepedanya langsung masuk bengkel ntar. Huu, salahnya pakek sepeda balap mahal :p

Ketika suasana perlahan berubah menjadi damai dan sentosa, saya berusaha mengingat kemana kita harus melaju. Tapi yang di kepala cuma: udah, ikuti aja alirannya.

Sampai akhirnya, jeduar! Selokan keputus kali krasak. Kita tersesat!

Dengan modal bahasa Jawa yang entah itu ngoko apa kromo, saya dan Kiky berulang-ulang tanya kemana arah menuju Bendungan Ancol, hulu Selokan Mataram di Kali Progo.  Satu pelajaran yang didapat: jangan pernah bertanya seberapa jauh lagi akan sampai tempat tujuan. PHPlah~

Intinya lupakanlah sejenak studio, SK, tugas abalabal, UTS nggombal, 3ds max, laptop, motor, dan semua hiruk pikuk dunia kampus yang jujur saja … memuakkan.

Semua yang kita lihat adalah hamparan hijau sawah pepohonan dengan rumah-rumah sederhana diantaranya. Dengan suara musik aliran air selokan dan gesekan daun yang tertiup angin. I feel like I’m home.

Dalam diam, kami berlima terus mengayuh sepeda. Sesekali guyonan dan gombalan tidak penting memecah imajinasi masing-masing. Tanpa disadari, kami menjadi ada jarak lebih dari 20 meter. Rahmi dan Suva berada di depan. Kiky dan Miftah berada di belakang. SAYA.SENDIRIAN. AJA. *harus pakai capslock* Ngenes banget kalau diingat-ingat ini :(

Setelah melewati rumah-rumah penduduk, kami menyebrang Kali Krasak dan insting langsung pengen nyebur-nyebur bermain air. Bahagia itu sederhana,  ya?

Tidak serumit hubungan mereka berdua. Manusia Jakarta yang selalu bertengkar kalau bertemu. Saya, kami sampai suka bingung sendiri melihat mereka adu mulut tidak ada habisnya. Padahal sama-sama suka fotografi, sama-sama suka sepeda. Udah deh, kenapa nggak kalian seriusin aja sih?

Hingga akhirnya setelah perjalanan 24 km kami sampai di Bendungan Ancol. Tempat enak buat leyeh-leyeh membicarakan hal-hal random. Dan tentu saja mem-bully Miftah habis-habisan.

Lalu setelah Dzuhur, kami pulang melewati jalan lain dan menemukan another unforgettable experience.

Melewati genangan air yang belum tahu kedalamannya berapa. Radarnya Miftah langsung aktif dan menceburkan diri dengan ngebut sehingga airnya nyiprat-nyirat. Saya kira dia akan tenggelam ditarik Dewi Selokan. Untunglah selamat sehingga bisa ada yang memoto. Tepuk tangan untuk Rahmi sebagai new biker yang berhasil melewati tantangan ini.

Saya bilang ke mereka: eh, mbok kita kejebak hujan terus berteduh dimana gitu ya?! Mereka bilang: jangan hujan doong. Tapi takdir sedang berpihak kepada saya. Setelah sholat Dzuhur, hujan turun deras dan terpaksa kami duduk-duduk dulu di masjid. Lalu hujan lagi. Berteduh lagi di Kandang Sapi. Muncullah soundtrack of the journey: Sherina-Pelangiku.

Setelah reda, kami lanjut dan menemukan best view dari jembatan gantung di daerah mana nggak tau. Jurang yang dalam dan seksi dan sungai berkelok dengan hawa sehabis hujan. Perfect!

Lalu perjalanan pulang yang membuat semangat kami agak kendor karena jalan naik menuju rumah saya. Tapi tetap saja yaa, dasar mahasiswa, dapat makanan gratis seberapapun langsung dikuras habis. Dan saya suka ketika kami ndugong terkapar berbagi bantal bercerita bagaimana tidak terduganya perjalanan ini.

Akhirnya saya menemukan travelmate dengan paket lengkap. Faizana Izzahasni. Rahmi Afuza Maulina. Annisa Rizky Fadlillah. M Suva Nugraha. Miftah Fakhri. Terimakasiihhh, semuaaaaaa :D

If I may say, it is sweet to remember how our journey was. Do you think so, heh?

*photos by Miftah Fakhri