Definisi Bagus

Hampir pukul 3 sore. Pak Sayid mulai berkeliling menanyakan progress. Di minggu pertama mengerjakan tugas akhir, ada yang sudah berlari namun ada juga yang masih meraba-raba.

Pak Sayid berjalan menuju tempat penyimpanan, membuka lemari lalu mengambil berkas.

“Nah, ini ni bagus. Iya, nilainya juga nih. Sana lihat di perpus.”

Tangan kami sudah penuh dengan jilidan gambar tugas akhir kakak angkatan. Tertera beberapa nama yang direkomendasikan untuk dijadikan contoh.

Sambil terus membuka tiap halaman, kami tetap terdiam. Sampai di ujung jilidan, ada yang berceletuk.

“Kok bisa dibilang bagus ya?” Kami melihat gambar terkesan sepi, dengan layout yang terkesan biasa saja.

“Mungkin ada hal yang lain yang tidak ‘terlihat’ oleh kita.” Yang lain berceletuk.

Dalam angan, saya bertanya-tanya bagaimana mendefinisikan bagus dalam arsitektur? Apakah dari ide, kreatifitas, fungsi, cara penyampaian, atau dari lainnya? Dari nilai yang tertera di kartu studi mungkin?

Saya menyimpulkan bahwa saya belum bisa melihat arsitektur lebih dekat, karena selama ini saya hanya menilai dari: waaaw, bagus yaa. Iya, bagus oleh mata. Padahal di balik itu semua, ada ide atau gagasan yang menjadi tonggak utama dan hal-hal lain yang terkesan disepelekan. Di sisi lain, ide atau gagasan akan sulit diterima jika penyampaiannya biasa saja. Selama ini, media penyampaian ide arsitektur yang saya tahu adalah gambar, maket, dan presentasi verbal. (Tidak ada ya yang sambil berpusi atau teatrikal?).

Seperti ketika saya menghadiri salah satu pameran arsitektur. Render bagus, maket dibuat detail, penjelasan memukau. Tapi ya itu, idenya begitu saja lalu disampaikan dengan media atau cara presentasi yang memukau.

Well, mungkin definisi bagus dalam arsitektur tiap orang berbeda-beda. Ohya tentu saja. Bukankah semua kata sifat adalah relatif?

Ngomong-ngomong, saya membuat tulisan ini ketika seharusnya mengerjakan tugas akhir. Eheheheh

 

Pertama Setelah Sekian Lama

Kulihat kembali catatan pada lembar-lembar biru. Satu bulan sudah berlalu tanpa bertemu dengannya. Rasa sakit semakin terasa ketika hanya bisa melihat kendaraannya terparkir di halaman kampus, atau melihatnya dari jauh. Aku belum siap untuk bertemu kembali. Pun kalau aku sudah berdandan rapi, dia pergi. “Sabar, aka nada saatnya” tenangku dalam hati.

Rupanya,keberuntunganku datang hari ini. Di depan kelas aku dan dia berpapasan, lalu berhenti sejenak karena dari jauh aku sudah melambaikan tangan dan dia tersenyum. Jabat tangan untuk pertama kali setelah sekian lama, berbalas kabar sebentar kemudian berjanji untuk bertemu kembali siang nanti seusai kuliah.

Setelah dia selesai menemui entah siapa, aku bertemu dengannya.

“Loh mbak, kok belum mengundurkan diri?”

“Hah mengundurkan diri apa ya pak?”

“Lah sudah berapa lama tidak bimbingan?”

“Heheh, maaf pak. Sudah 1 bulan. Ini pak, sudah menulis sampai ini.”

Sambil mengantuk, membaca lalu mencoret-coret pra TA yang dikerjakan dalam waktu beberapa hari saja.

“Kunjungi presedennya langsung. Wawancara siswa dan pengurusnya. Supaya dapat ide ini mau dibawa kemana. Jangan lama-lama loo mbak, kasih tau temanmu juga.”

Berjalan gontai, aku bertemu dengan mereka yang selalu menyemangati. Melihat mereka sedang ngeprint poster untuk seminar PD, aku mulai menghitung hari.

 

 

Sempat-sempatnya untuk melihat-lihat kartu bimbingan teman lain. Ekekekek. Ayok maju saja terus, kawan. Walaupun minim progress atau bahkan ganti judul, sering-sering saja bertemu dengan dosen pembimbing. Akan ada pencerahan kook, apalagi dosbingnya ada dua kece2 lagi.

Ingat target!

UTS Arsitektur Digital

beberapa menit yang lalu baru saja memencet tombol OK untuk pengumpulan UTS Arsitektur Digital.

Ini menyiksa sayaaaa, menyiksaaaaa :(((

harusnya sih kayak yang diatas, tapi …

ini hasil renderan cupu saya pakai 3ds max

AAAAAAAAAAAAAAA, JIJIIIIIKKKKKKKK !!!!