1 bulan

Tara taraa. Baru 1 bulan ini dirasuki oleh dunia perkuliahan di arsitektur. Masih ada 4 tahun lagi untuk lulus.
Okey, saya masih jet lack. Masih suka kebawa-bawa zaman sekolah dulu yang dituntun untuk memahami pelajaran. Kamu MAHAsiswa, mbak! Dosen mau masuk dan berceramah mengantukkan atau tidak masuk karena ke luar kota/negeri. Dosen juga terserah mau memberi tugas seberapa banyak. Dosen tidak peduli dengan mata kuliah lain yang juga memberi tugas banyak. Atau mungkin asdos yang datang sesekali lalu ditinggal main pingpong. Ow, budayakan hidup sehat, begitukan mas?
Bukan, ini bukan salah dosen atau asdos.
Ini masalah saya yang kekanak-kanakan. Yeah, bilang saja kalau saya masih seperti anak kecil. Gambaran jelek karena saya tidak tlaten untuk membuat yang rapi. Klien juga tidak suka kalau tulisannya jelek. Lalu latihan menulis seperti pakai buku bersambung zama SD itu. Kalau nggambar, kertas selalu kotor dengan noda-noda pensil atau penggaris, lecek. Oh, estetika dasar hidup dengan keindahan. If you know me, kamu akan bilang: orang beginian belajar estetika?perlu usaha keras untuk mencapainya.
Kuliah di arsitektur jadi berasa kuliah kepribadian. Belajar rapi, mengontrol emosi, keindahan, dan jadi punya tempat pensil yang isinya penuh. Padahal dulu SMA cuma bawa satu pensil dan langsung masuk saja ke tas.
Lalu cerita ke mbak rina angkatan 2007. Mbak mentor waktu SMA dan sms darinya tidak pernah takbales. Eh, sekarang saya yang nyeret-nyeret. Maafkan saya mbak yang tidak tau sopan santun. Dan kata mbak rina kalau tetep maju terus, bakalan kekejar. Kalau diam atau mundur malah bakalan tambah ketinggalan.
Yaaa, hal yang selalu saya ingat adalah ini arsitektur ugm saya pengeni, ngebet pengen kuliah disini. Eh, sudah dapet apa yang dimau, masih mengeluh. Kalau mau mengeluh gini, ngapain dulu belajar pontang panting soal SNMPTN, hah? Hidup itu untuk diperjuangkan bukan tempat berputus asa! Sudahlah, jangan berharap banyak kalau tidak berbuat banyak. Move on!
Allah, tolong mudahkanlah segala urusanku. Jadikan tanganku ini keren biar bisa gambar dan mendesain bagus. Amin.

Galau~

Puncaknya adalah ketika bapak mengeluarkan semua unek-uneknya secara langsung. Bahwa saya kalau daftar UII besok diberi pertimbangan (bukan menyuruh_kata bapak) untuk memilih Ekonomi. Sambil kepala nguing-nguing dan mata menahan air biar nggak jatuh, saya mendengarkan bapak mendikte alasannya.

Pertama, mbak dan 3 orang sepupu saya kuliah di ekonomi. Jadi nggak usah beli buku. Lagipula kalau ada tugas tinggal pinjem atau nyontek saja.

Kedua, cari tempat kuliah yang bagus jurusannya apa. Kalau UII bagus di ekonomi dan hukum.

Ketiga, bapak pengen besok anak-anaknya bekerja di kantor, apalagi yang perempuan. Nah, arsitek kan kerjanya di lapangan. Dan itu biasanya pekerjaan laki-laki.

Keempat, dulu ketika nggak diterima SNMPTN Undangan, bapak mau saya memilih jurusan yang lain, yang punya passing grade lebih rendah, di SNMPTN tertulis. Karena saya log in tanpa sepengetahuan bapak, jadi saya memilih arsitek lagi tanpa ragu. Yeah!

Saya, ketika itu, sedang sibuk mengatur nafas sambil  mengusap mata. Dengan menceritakan pengalaman mas dan mbak ketika memilih jurusan dulu, ibuk mencoba meyakinkan kalau nggak ada yang salah dengan memilih arsitek lagi di UII. Dan pada akhirnya, bapak bilang kalau yang mau kuliah itu saya, jadi terserah mau milih apa. Bapak hanya memberi pertimbangan saja.

Jadi, haruskah saya berhenti mengejar mimpi dan beralih ke pilihan yang lain? Bagaimana dengan ‘yang kamu inginkan belum tentu yang terbaik di mata Allah’?

 

Belum Berhasil

gagal di sini, berhasil di sana. selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha dan berdoa.

Aan bilang everything is ok at the end. and if it’s not ok, then it’s not the end.

Mas Asvin meyakinkan kalau gagal pertama itu nggak papa. malah matanya bener-bener kebuka.