Memilih Masa Depan

Ini tentang masa depan yang tidak akan pernah tahu seperti apa. Tapi setidaknya kita bisa berbuat sesuatu untuk ‘menciptakan’ masa depan.

Jadi setelah lulus besok (Amiin), saya mau kuliah. Kuliah dimana adalah pertanyaan besar. Sebenarnya banyak tempat kuliah di Indonesia. Tapi malah bingung mau pilih yang mana. Haha

Teman-teman yang sudah diterima di PTS membuat iri karena mereka sudah punya cadangan. UPN, UII, UMY, IT Telkom. Aduh, bagaimana ini? Bahkan belum tahu mau daftar PTS yang mana. Memang sih, saya berharap diterima di PTN, tapi kan harus siap apapun yang akan terjadi. Siap kalau berhasil menembus langit, tapi harus lebih siap kalau kenyataannya justru jatuh tersungkur ke tanah. Bapak bilang kalau nggak usah kuliah di PTS, di UGM aja. Mbak juga bilang kalau mau daftar PTS, akhir-akhir aja. Oh…

Lalu, akhir-akhir ini disibukkan dengan pendaftaran Sekolah Tinggi. Bukan saya, tapi teman. Kalau dipikir-pikir, enak juga kuliah di ST. Ada yang gratis, bahkan dapat uang saku. Lalu setelah lulus langsung dapat pekerjaan. Makmur sekali. Heran dengan perilaku saya sendiri yang tidak tertarik dengan itu.

Lalu mau pilih mana? UNDIP atau UNS? Mbak menyarankan ke ITB. Ibuk setuju. Menurut saya, bapak lebih setuju. Cita-cita bapak yang tidak tercapai, bolehlah diwujudkan anaknya. Haha. Tapi, bagaimana mungkin saya memilih ITB dan UGM? Lagipula, kenapa nggak ada ujian mandiri, sih? Jadi harus merelakan salah satu, dong.

Satu lagi. Kalau yang ini benar-benar menggiurkan. Beasiswa kuliah di Jepang! Walaupun pendidikannya lebih lama dan tidak ikatan dinas, tapi ini terlihat mengasikkan. Dapat uang saku, gratis biaya pulang ke Indonesia. Oh ya Allah, andaikan saja nilai saya lebih bagus. Hiks hiks hiks

Tapi, kuliah dimanapun sama saja. Tergantung kita seperti apa. Semoga kuliah dimanapun menjadi yang terbaik. Que sera sera whatever will be, will be.

Ujian Nasional

Anak kelas 3 SMA adalah disaat merasakan menjadi pelajar yang menjalankan tugasnya untuk belajar. Benar-benar luar biasa. Sekolah, les, privat, ngenol. 6 pelajaran tumplek sekaligus di kepala. Rumah hanya sebagai tempat untuk numpang tidur dan makan. Dan kamar menjadi tempat mengerami soal-soal. Percayalah, sedikit dari anak kelas 3 SMA yang punya kamar bersih. Seperti saya yang susah punya kamar bersih. Kalaupun bersih, itupun hanya bertahan dalam beberapa jam saja. Haha..

Tapi ini Ujian Nasional sudah berlalu. Momok menakutkan alhamdulillah berhasil ditaklukan walaupun pada awalnya nervous nggak karuan. Oh, kenapa soal Matematika UAS jauh lebih susah dari pada UANnya. Dan relativitas Fisika yang keluar yang berapa kecepatan A terhadap B. Sebenarnya mudah, tapi sayang saya malah menghafal rumus yang ada akar2nya. Hadeh -_- Menurut pengakuan teman-teman, ternyata UAN tidak seserem yang dibayangkan asal belajar. Pengawasnya juga baik kok.

Setelah ini, masih ada satu lagi. SNMPTN! Masih ada kurang lebih 39 hari lagi. Tapi semoga tanggal 18 Mei besok ada pengumuman kalau diterima lewat SNMPTN undangan. Dan sangat sangat semoga kabar gembira SMADA 2011 lulus 100%. Amiin…

Menghadiri Undangan

Bagi yang belum mau menikah, hal yang dilakukan setelah lulus SMA adalah kuliah. Haha. Sekarang untuk bisa berkuliah ada banyak aturan. Ujian Mandiri hanya diadakan oleh segelintir PTN. Ada SNMPTN undangan yang menyediakan kursi ndewo sekali. 2 PTN, masing-masing PTN 3 prodi. Jadi, calon mahasiswa memilih 6 prodi. Ada juga SNMPTN tertulis.

SNMPTN undangan diperuntukkan bagi mereka yang direkomendasikan sekolah. Saya direkomendasikan tapi tidak mau mengambil. Karena, info dari sekolah: bagi yang ikut SNMPTN undangan tidak boleh memilih UGM. UGM hanya membuka jalur PBU (PBS, dkk) dan SNMPTN tertulis. Haruskah saya melepaskan UGM begitu saja tanpa berusaha sedikitpun? Kuliah memang tidak harus di UGM, tapi mbok yo diusahakan. Kalau tidak bisa, baru ke PT lain. Sebenarnya, semua tergantung pada diri sendiri, sih. Mau kuliah dimana saja asalkan dirinya pinter dan punya skill, oke oke saja.

Ups! Ternyata sekolah saya salah informasi. SNMPTN undangan boleh memilih UGM. Hari terakhir pendaftaran di sekolah, saya baru mendaftar. Tahukah? Saya hanya memilih 1 prodi, 1 PTN. Yaitu Arsitektur UGM. Alasannya adalah, misalnya saya diterima di PTN lain, maka akan menyesal karena belum berusaha maksimal untuk kuliah di UGM. Sekedar informasi, SNMPTN undangan diseleksi berdasarkan nilai rapot. Angka-angka di rapot adalah hasil saya tidur, mbolos, dan ngobrol di kelas.

Jadi, memang saya bunuh diri hanya memilih 1. Daripada memilih banyak dan diterima di PTN atau prodi yang kurang sreg. Kurang lebih 4 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menderita karena salah jurusan.

Bagaimanapun nanti hasilnya, semoga menjadi yang terbaik untuk semua pihak. Diterima lewat jalur undangan, alhamdulillah. Kalau tidak, masih ada SNMPTN tertulis. Kalaupun tidak, masih ada PT swasta. Ibuk bilang, selalu ada jalan untuk orang-orang yang mau berusaha dan berdoa.

Salam sukses!