Sibuk

20-22 Januari 2011 : Latihan Ujian Nasional Putaran I
31 Januari-2 Februari 2011 : Latihan Ujian Putaran II
17-19 Februari 2011 : Latihan Ujian Putaran III
28 Februari-4 Maret 2011 : TPHBS
16-22 Maret 2011 : UAS
24 Maret-2 April : Ujian Praktek
18-21 April 2011 : Ujian Nasional
31 Mei-1 Juni : SNMPTN

*diambil dari berbagai sumber

maaf, jadwal saya sampai bulan Juni sudah penuh :)

Desperate

72 hari menuju UM UGM dan UAN 94 hari lagi. Kurang lebih. Apakah sudah siap? Belum. Lalu, apa yang menjadi masalah? Tali asa saya hampir putus.

Karena saya muak dengan pelajaran di sekolah. Saya capek harus pergi les. Saya sudah bosan mendengar semua guru mengingatkan kalau UAN, UM tinggal sebentar lagi. Saya mau ini segera berakhir! Saya tidak peduli dengan orang yang berkata kalau suatu saat nanti, saya akan menyesal pernah berkata seperti ini. Walaupun saya menyetujuinya. Karena sesuatu akan terasa berharga kalau sudah tidak memilikinya.

Tapi bagaimana mau segera berakhir kalau ujian-ujian ‘masih’ 72 hari lagi? Bagaimana mau lolos ujian kalau belum membuka buku saja sudah pingsan duluan?

Kata Pak Putu, manusia harus berusaha. Saya manusia jadi harus berusaha. Berusaha menyambung asa, berusaha mengerjakan soal-soal supaya terbiasa, berusaha dan berusaha. Dan berdoa. Hanya itu saja yang bisa dilakukan.

Will I Be an Architect?

Menjadi siswa tahun terakhir di SMA adalah hal yang berat. Selain harus dihadapkan pada ujian kelulusan, bagi yang ingin melanjutkan studi harus berebut kursi untuk memasuki perguruan tinggi. Apalagi kalau di tahun sebelumnya, mbolos sekolah menjadi hal yang biasa.

Inilah saya yang sebentar lagi akan melepas seragam putih abu-abu. Lalu, setelah itu apa yang akan saya kenakan?

Di awal-awal kelas 3, berniat untuk kuliah di STAN. Tapi tidak tahu mengapa, menjadi tidak semangat lagi ingin kuliah di sana. Saya menerima pertanyaan dari banyak orang: “mau kuliah dimana?” malu dengan diri sendiri sekaligus iri ketika teman-teman sudah menemukan jawabannya.

Beruntunglah karena memiliki orangtua yang tidak banyak menuntut. Tapi kebebasan justru membuat semakin bingung. Ibuk menyarankan untuk kuliah di arsitektur entah karena alasan apa.

Dan ketika ditanya oleh Pak Ucok, seorang konsultan akademik di SSC, saya menjawab arsitektur. “Oh, bagus mbak. Kamu punya jiwa seni tapi kurang dikembangkan saja bakatnya. Desain interior UNS juga boleh. Tapi arsitektur juga nggak papa.” Terimakasih Pak Ucok atas sarannya.

Ketika semakin yakin untuk menjadi arsitek, keraguan muncul ketika nonton film kartun Jepang yang berjudul “Pom Poko”. Film itu seperti apa silakan saja cari di internet. Tapi yang jelas, film itu membuat saya sedikit ragu untuk menjadi arsitek atau mungkin bisa juga memotivasi untuk menjadi arsitek yang hebat.

Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.