Highest Point

Minggu yang asik. Setelah ikut bapak memperbaiki genteng bocor di loteng ketika itu, kali ini bapak menantang keberanian saya untuk memanjat genteng. Tanpa pikir panjang, saya langsung naik tangga dan tibalah di genteng. Ah, keciil.

Tapi belum sampai puncak yaitu sisi paling atas. Lalu naik lagi. Ternyata, tidak semudah yang dibayangkan. Saya harus merangkak naik dengan kemiringan, menginjak genteng yang licin karena lumutan. Di tengah-tengah sisi miringnya, saya menjerit-jerit minta tolong bapak. Putus asa. Mau turun tapi nanggung, mau naik lagi tapi susah. Bapak terus meyakinkan kalau saya bisa sambil menyarankan bagaimana cara memanjat. Lapar yang semula melanda, hilang seketika. Keringat mengucur deras membuat tambah licin. Kaki, tangan berasa kaku. Setelah menenangkan diri, fuih, lanjut naik ke atas.

Akhirnya sampai di sisi teratas genteng. Pemandangannya keren. Di sisi timur matahari bersinar menyambut keberhasilan saya. Haha. ada gedung dealer motor, hutan di belakang rumah. Sisi selatan dan barat terlihat rumah-rumah tetangga. Nah, di utara, ada ibuk-ibuk yang sedang menggarap sawahnya, perumahan Griya Kuantan, dan merapi.

Asik sekali melakukakan ini. Hanya duduk menikmati yang ada. Walaupun harus berusaha keras dan sempat putus asa.

merapi sudah agak tertutup awan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s