Pertama Setelah Sekian Lama

Ketika menghadiri pernikahan, seorang teman terkejut dengan kemunculan saya dan langsung memborbardir dengan pertanyaan, “Kamu apa kabar? Masih di Jogja atau dimana? Trus kerja? Dimana? Kok nggak pernah kedengeran kabarnya sih?”.

Saya mencoba mengingat-ingat pertanyaannya dan memastikan semua terjawab. “Mmm, baik-baik aja. Hooh, di Jogja kerja. Emang aku nggak pernah kedengeran kabarnya ya?”

“Yaaa, kamu nggak pernah update di sosmed apaa kek. Di grup juga anteng-anteng aja. Nggak kayak aku yang woro-woro ke seluruh dunia perlu tau aku ngapain.”

Kami berdua tertawa. Dia masih sama, asik dan guyub ke semua orang.

Di tengah hiruk pikuk orang-orang makan, ngobrol, berfoto, update insta story, saya berpikir untuk kembali terlihat beraktivitas di sosial media. Haruskah?

Hello you, somewhere accross the screen.

I am not dead, yet. Walaupun hidup seperti kata Ed Sheeran “crumbling like pastries”. Kalau bahasa Jawanya nggregeli.

Anyway.

Beberapa minggu terakhir, saya mengikuti 2 tes yang mengharuskan untuk belajar dan membaca teks panjang dan fokus dan berpikir. Sepertinya baru saja selesai kuliah, tapi kok rasanya sudah sulit untuk memasukkan informasi ke dalam kepala.

Karena selama ini otak kamu dalam mode auto pilot, jah.

Seperti orang beranjak dewasa yang sering googling “how to …”, saya kemudian mengetikkan “how to keep your brain sharp” di menu pencarian. Alih-alih melakukan hal yang disarankan, saya ingin kembali menulis. Sempat mutung lama, akhirnya kembali rutin menghasilkan tulisan yang lumayan serius. Terimakasih kepada Pijar Psikologi yang sekian bulan lalu menyuntikkan rasa percaya diri, apalagi ini di luar bidang keilmuan saya.

Lalu sekarang mau menulis apa? Saya pun tidak tahu.

Mungkin isinya sudah tidak seperti dulu yang mencurahkan segala perasaan ke dalam tulisan. Tidak juga menceritakan sedang apa dimana dengan siapa karena membeberkan kehidupan pribadi di sosial media sangat menyeramkan. Di sini saya tidak berusaha untuk ‘menginspirasi’ –kata yang semakin sering digunakan karena da aku mah siapa atuh. Mungkin saya malah menulis percakapan dengan diri sendiri, dari pada hanya terjebak di dalam kepala –ugh, ini sangat menyiksa.

Atau mungkin ini tulisan terakhir karena bisa jadi sebentar lagi saya mati.

Future is scary, isn’t it?

* Dunia perlu tahu kalau aku masih mainan twitter. Haha. Berita, hoax, twitwar, meme, guyonan receh, semua ada. That’s why I love twitter.

** Jangan dimarahin kalau kadang-kadang tulisannya berbahasa Inggris. Jangan anggap aku keminggris juga karena hampir tidak mungkin terjadi jika kamu mendengar logat bicaraku. Sst, ini karena ada hidden agenda.

*** Whoaa, terkejut bisa menulis sepanjang ini dan berani mempublikasikannya.

Advertisements

Memakai Otak

“Ntar lama-lama kamu juga terbiasa, jah.”

Di atas motor dalam perjalanan menuju kantor pusat, seorang teman menanggapi keluhan dan protes saya terhadap kerjaan. Masih ingin ngeyel tapi hanya menghela nafas. Selanjutnya, perjalanan kami ditemani kebisuan.

Satu bulan kemudian saya teringat dengan kata-kata itu, seolah memecut jiwa dan pikiran yang sudah mulai ‘terbiasa’. Ketakutan yang pernah dirasakan satu bulan lalu, kembali menyeruak. Ketakutan karena terbiasa dengan pola hidup yang konstan, otak yang jarang dipakai untuk berpikir kritis, berkreasi, inovasi, dan ketakutan karena terbiasa dengan kenyamanan yang tidak membuat diri ini berkembang.

Ah, mungkin berbagai ketakutan itu hanya ada di pikiran saya saja, padahal hal yang ditakutkan tidak benar-benar terjadi. Bisa jadi.

Lalu, nekat mengikuti kursus dengan dalih mempersiapkan masa depan. Padahal belum ada rencana jelas juga sih mau ngapain. Usai pertemuan pertama, saya menertawakan kebodohan sendiri. Sungguh, selama ini dipakai untuk apa otak saya? Terbiasa bekerja secara otomatis seperti mesin, kali ini mencoba menaruh kesadaran penuh terhadap hal-hal yang saya lakukan di kantor.

Teman saya duduk terdiam dengan tatapan kosong, “Kok aku baru sadar, 40% dari aktifitas kita di kantor tu urusan administratif ya.”

“Serius 40%? Lebih dari 50% kalik.” Saya menimpali dengan sinis. Urusan administratif yang sulit untuk mengikuti perkembangan zaman dan hal-hal sepele yang merepotkan. Bureaucracy drives me crazy. Tapi menyalahkan sistem tidak ada pengaruh yang signifikan juga, sih.

Maka, saya harus bekerja lebih keras selagi masih muda. Untuk rajin membaca berita dan tulisan bagus, nonton film yang nggak cuma bikin baper doang. Untuk menyerap ilmu pengetahuan dan belajar social skills. Untuk berkarya dalam bentuk apapun. Untuk berbagi agar hidup menjadi berarti.

Supaya setidaknya, saya bisa meredam ketakutan yang menguasai kepala.

Shout out to my friends yang namanya disembunyikan. In case you read this, karena yaaa kita kan saling kepo. Thanks for making me think and laugh. I am so grateful having you both throughout the working day.