Update Medsos karena Kesepian atau Sebaliknya?

Sebut saja namanya Budi.

Mengenalnya hampir 1 tahun kemudian berpisah karena nasib berubah, menurut saya Budi adalah tipe orang yang peduli dengan apa yang ditampilkan di media sosial. Sempat kepo instagramnya, lalu dilock karena saya bersama dia 5 hari seminggu, 8 jam sehari di kehidupan nyata. Tiap orang punya alter ego yang bisa jadi bertentangan. It’s okay.

Dalam kurun waktu 1 tahun tersebut, jumlah status curhat Budi di Whatsapp bisa dihitung jari. Tapi berubah semenjak ia merantau 1 bulan lalu. Hampir setiap hari ada, bahkan pernah 1 hari mencapai 2-3 kali. Berdasarkan pertanyaan yang pernah saya lempar di status Whatsapp, orang akan memilih membagikan status di Whatsapp (padahal ada banyak media sosial lain) untuk mengabarkan kepada keluarga, kerabat, dan kolega –orang-orang yang dikenal langsung di dunia nyata. Yang menjawab cuma 3-5 orang, sih.

Lalu, saya menarik hipotesis apakah dia merasa kesepian karena belum ada teman di perantauan yang diajak curhat sehingga sering update status di Whatsapp yang berisi curhat?

Sampai di sini saya merasa iyuh creepy amat yak, ternyata saya ngikuti pergerakan kehidupan di status media sosialnya orang. Kayak nggak penting. Tapi sejujurnya saya tidak sepenuhnya sadar melakukan itu. Something hit me hard that morning sehingga saya menyadari hal ini dan melanjutkan pengamatan.

Melempar status kedua dan menuai beberapa respon asik. Dalam hal ini yang dimaksud adalah update status yang berisi curhat kehidupan pribadi -sedang apa dimana dengan siapa bagaimana perasaannya. Bukan update status yang membagikan informasi (ilmu, tempat asik, orang/barang hilang, promosi, karya) atau membagikan awareness tentang suatu isu.

Bahwa kesepian dan media sosial mempunyai hubungan kausalitas. Masing-masing bisa menjadi sebab dan akibat. Baca pembahasan selanjutnya dari artikel yang kamu cari di Google. Sip?

Ada juga yang bilang kalau mending curhat ke Allah aja. Hmm, sebetulnya antara curhat di media sosial dan curhat ke Tuhan bukan perbandingan yang seimbang, jadi tidak ada yang mending mana. Mending curhat di media sosial atau curhat dengan teman? Nah, itu baru pas. Penting juga untuk mengadu seluruh keluh kesah kepada Sang Pemilik Hidup karena Beliau-lah yang memberikan jawaban. Tapi jawaban tidak jatuh langsung turun dari langit. Bisa jadi dari perpanjangan tangan-Nya melalui orang-orang yang kita ajak cerita, orang random di media sosial, atau melalui hal-hal yang tidak terduga.

Dan yang paling menampar saya adalah jawaban dari bulik yang tinggal di pedalaman Kalimantan. Kondisi jarak rumah yang berjauhan, tetangga yang sebatas tetangga, mendorongnya untuk update status supaya memancing orang untuk diajak ngobrol. Ia merasa garing kalau tiba-tiba say hallo. Lalu saya merasa bersalah karena bulik sering ngechat yang hanya saya balas dengan, “apa?” “gimana” “sehat” tanpa follow up obrolan lebih lanjut. Dia sedang kesepian di sana dan saya tidak sadar padahal sudah disentil. Shame.

Tentu ada banyak alasan mengapa orang membagikan status atau posting sesuatu di sosial media. Itu tidak bisa disamaratakan. Tidak sepantasnya kita menghakimi orang tersebut dan sepenuhnya percaya dengan apa yang ada di layar kaca. Alangkah baiknya kalau mulai kembali untuk basa basi menanyakan kabar. Nggak usah sok tau kabarnya si dia dari apa yang dia bagikan di sosial media, deh. Kan nggak tau behind the square screen ada cerita apa. Dan juga bagi pihak yang suka membagikan sesuatu di media sosial diperlukan second thought sebelum pencet post. Apakah penting untuk membagikan ini, siapa yang akan membaca, apakah postingan ini memberi manfaat bagi orang lain. Bisa kok membagikan suatu hal dari sudut pandang yang berbeda.

Be wise. Be kind.

Media sosial memang suatu fenomena yang asik dan pelik untuk dibahas. Kalau saya sangat pemilih dalam membagikan curhatan di media sosial. Dan ke teman juga, sih. Semacam ada perasaan dihantui oleh mata yang selalu mengawasi, kungin berteriak

sumber: teepublic.com

 

BONUS GREAT VIDEO!

Advertisements

2017 review

Kehidupan pasca kuliah sangat nanonano. Ada pilihan bekerja atau mengambil kuliah S2 atau menikah. Dengan segala pertimbangan serius dan konyol, saya memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu. Sepanjang 2016, memasukkan lamaran pekerjaan sana sini, gagal berkali-kali. Dibarengi dengan mencari kesibukan mulai dari membantu kakak angkatan penelitian S2, jadi LO di Pusat Studi di Fisipol, menulis artikel psikologi, ikut workshop kepenulisan, mengajar anak-anak Bahasa Inggris. Saya suka melakukan semua itu walaupun sangat random tapi apapun yang ada di depan mata samber aja. Sulit untuk menjawab pertanyaan dari kerabat tentang sudah lulus belum kerja dimana. Alhamdulillah di akhir 2016, mendapatkan apa yang orang bilang ‘real job’ sesuai dengan bidang yang saya gemari.

Awal 2017 saya bersiap melesat di tempat kerja baru. Layaknya naik roller coaster, pada awal tahun kecepatan kereta masih pelan. Kadang ke kantor hanya setor muka dan numpang internetan. Berbulan-bulan dihantui pertanyaan: “apakah begini potret pegawai di pemerintah daerah?  Apa yang dimaksud ketika beliau berkata kinerja kita diukur dari serapan dana?” Saya mencoba memahami dan bertahan. Mulai bulan Maret, berbagai pekerjaan sudah dimulai dan perlahan menanjak. Setelah lebaran, seperti dilepas dari puncak tertinggi roller coaster. Kecepatan penuh, belok kanan kiri, muter 360 derajat. Tidak ada jeda. Ingin teriak dan meledak.

But that was great. Ternyata Yogyakarta sangat kaya –punya peninggalan struktur, bangunan dari zaman pra sejarah sampai kemerdekaan. Selain tentang softskill yang memang terus dipelajari sepanjang hidup, saya belajar tentang bagaimana menangani dan mengelola bangunan cagar budaya. Jika ada kesempatan entah dimanapun itu, ingin sekali tahu lebih banyak dan mendalaminya. But there is also time when I have my heart broken working here. Urusan administrasi birokrasi makes me crzay. Sistem yang kaku. Kebiasaan tidak pantas yang terus terjadi di depan mata. Ide-ide yang hanya berhenti di kepala dan pembicaraan sambil lalu. Is this how love-hate relationship feels like?

Walaupun begitu, walaupun peraturan kontrak 2018 berubah dan diberitahu pada hari terakhir kontrak 2017, toh saya tetap memperpanjang. Ada alasan serius dan konyol di balik keputusan ini. Butuh cara baru untuk menjalani hari di 2018 supaya bisa melihat bigger picture, supaya tidak hanya terjebak pada rutinitas, supaya les Bahasa Inggris yang seharga gaji sebulan membuahkan hasil, supaya berkembang mindsetnya.

Hm, bahas kerjaan saja sudah 350 kata, 4 paragraf. Tapi memang di tahun 2017, pikiran dan tenaga tercurahkan ke kerjaan. Kalau perasaan tercurahkan kemana, jah? Dalam setahun, jalan-jalan 2 kali. Ke hutan pinus Imogiri dan diajak ke Bintaro. Kedua perjalanan itu dilanjutkan dengan saya terkapar sakit. Ketika diinfus, merasa achievement unlocked. Lol. Ahya, bertemu lagi dengan teman-teman lama –ngobrol dan curhat dan ketawa dan galau dengan lepas. Berkenalan dengan banyak orang baru.

Cukup sekian. Bingung menutup tulisan ini pakai kalimat apa. But this picture from Sarah Andersen sums up my life.

sumber: di sini

My Dear Old Friend,

Today is the last day of 2017 and I still couldn’t write a letter for you. It is not because I don’t have time or something but there are so many things I want to talk to you. Actually, I have written them in my journal but I don’t think it is proper enough to be published here since it could be read by anyone. You know what it means to me when someone reading my journal. Ha!

So,

Life is weird, right? Back to years ago we were good friend then become stranger and now you ask me to put small contribution to your project. Life could flip in a blink of the eyes. When you tried to recall what we had in the past, of course I remember. It still sticks in my mind where we bought batagor, the song we played, what we did and talked in now your campus, why things happened. But, I had to cut your sentences because I was embarrassed of how dumb I was. You said we need to see the history to face future. And we can’t ensure the future.

Let’s just live in present day. Maybe we are on different path right now. You with your own life I barely know and I am here doing things. Give space for any kind of surprise because nobody knows what lays in front of us.

Anyway, thank you for making time in Bandung. You still owe me batagor! I was having a great moment since we met in front of Buaran Theater, long silence because I was late, until you couldn’t stop telling me your girl crush and finally waving goodbye in Tebet Station. I wish we could spend time a little bit longer. Go to Pasar Santa, Sentul, or BSD, or just talk. But no, this is enough.

Oh hey, finally I write one though this is not all that I want to tell you. Nggak lolos editing. Wk.

Years ago, I used to write letters (or whatever it is called) to you someone who means to me. This is the last letter in this series and the hardest one to write. I choose to not put password as I mention before and publicly share this because why not.