Menjadi Berguna

Satu bulan ini saya sering tidur cepat, bangun siang. Bahkan bapak yang jarang komentar sampai bertanya, “Kok tidur terus kenapa e?” Sambil kucek-kucek mata saya menjawab, “Capek.” Padahal ya nggak ngapa-ngapain.

Oh, tapi kan kamu bikin surat yang dicap basah lalu diantar ke tujuan padahal yang dituju bilang kirim email atau whatsapp aja. Oh, tapi kan kamu nyari-nyari tanda tangan daftar hadir biar lengkap sejumlah 20 orang. Oh, tapi kan kamu bingung bikin notulensi rapat yang tidak ada realisasinya. Buat nutup biaya lainnya itu, jah. Untung aja kamu nggak ngetik pakek mesin tik yang bunyi jebret-jebret. Itu kamu yang males ngetik jebret-jebret kalik.

“Capek dengan kehidupan, yah.” Bapak melirik bingung.

Saya juga bingung dengan pernyataan mereka, “Jumlah tenaga kerja kita ini masih kurang dari standar.” Yo padahal dalam praktek, kalau mau bekerja cepat satset batbet, efektif efisien, mau pergi dan melakukan sendiri, nggak ada ewuh pekewuh bisa kok dikerjakan cuma segelintir orang sehingga dalam waktu 8 jam padat dengan kegiatan sehingga nggak ada cerita pegawai ke kantor cuma untuk numpang download film.

Oh, mungkin karena kamu pernah merasakan nggak bisa nafas nggak bisa mikir lainnya karena harus give full attention pada kerjaan yang super banyak. Untuk ke kamar mandi, sholat, makan aja harus gantian sama teman satu tim, memastikan beban kerja teman lainnya nggak berat-berat amat kalau kamu tinggal pergi. Dan yang diurus adalah anak kecil. Bukan kertas. Keberadaan satu sama lain sangat diharapkan. Juga ketika kamu ditinggal, mental harus bebal, bisa mengganti fokus pekerjaan dalam satu detik, pun kamu perlu mempertahankan intonasi dan kata-kata yang keluar dari mulut tetap penuh kasih sayang dan perhatian walaupun otak dan hati rasanya mau meledak.

Nggak papa juga sih ada rekrutmen karena saya jadi ada kesempatan punya full time job. Hehe. Tapi ya itu, setelah mendapatkannya, 8 jam yang saya punya di kantor tidak bermanfaat sepenuhnya. Selalu sedih tiap liat jurnal tertulis hal-hal yang saya lakukan dalam sehari dan total waktu pengerjaannya. Tidak lebih dari 4 jam. Padahal kayaknya, yang dipikirkan pak kepala banyak banget.

Let me help you, sir.

Oh, atau kamu yang slengekan tidak cukup terpercaya untuk mengerjakan sesuatu, jah?

Sungguh satu bulan ini, saya menjadi orang tidak berguna. Padahal katanya “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” Bagaimana kalau saya mati dalam keadaan menjadi pribadi yang tidak memberi manfaat kepada siapapun.

Oh, kamu kan masih rutin menulis untuk Pijar Psikologi. Self promotion is here~

Ya Alhamdulillah setidaknya ada hal yang membuat saya penasaran dan pengen melakukan lebih baik dan bermanfaat. Tapi sebentar lagi kontrak habis lalu sudah bingung mau ngapain. Ngajar bimbel? Les IELTS? Ikut online course? Merealisasikan proyek sama Fika?

Ya yang utama ngerjain kerjaan kantor lah, jah. Gimana sih. Sering banget bingung ini memang nggak ada kerjaan atau saya yang nggak tau kalau ada kerjaan. Makanya, review kinerja kamu sendiri udah bener belum. Dewi sih bilang, “Tanya kepala kantormu biar barokah gajinya.”

Apapun, jah, apapun. Asal otak kamu terus dipakai buat perubahan baik untuk orang lain.

.

.

.

Atau menghilang aja deh.

cie, yang terjebak sistem. atau menjebakkan diri?
cie, yang terjebak sistem. atau menjebakkan diri?

apaan sih ini galau banget, menyebarkan energi negatif ke pembaca deh~

eh, emang ada yang baca? ge er amat.

Cerita dan Sedikit Tips Mengikuti JLPT (Part 2)

Baca alasan saya mengikuti JLPT di sini.

Apa itu JLPT?

Japanese Language Proficiency Test. Ini semacam TOEFLnya Bahasa Jepang. Dilaksanakan serentak di negara dan kota yang ditunjuk. Setahun hanya 2 kali, yaitu bulan Juli dan Desember. Jadi kalau mau digunakan untuk mendaftar sekolah atau bekerja, yaa harus disiapkan baik baik dan jauh-jauh hari. Ahya, berbeda dengan TOEFL, JLPT ada tingkatannya. N5 paling mudah hingga N1 paling susah. Mengikuti JLPT ini tidak harus urut dari N5 ke N1, boleh langsung ke N3 bahkan N1. Bebas. Perbedaan tiap level ada pada kosa kata, grammar, dan kanji yang harus dihafalkan. N5 ada 100 kanji hingga N1 2000 kanji. Fyi, tidak semua orang Jepang hafal semua kanji, kok.

Saya mengikuti JLPT N5 tanggal 4 Desember 2016 kemarin.

Bagaimana cara mendaftar?

Di Indonesia hanya ada 9 kota penyelenggara. Tahun 2016 ini, beberapa kota tidak menyelenggarakan JLPT bulan Juli karena bertepatan dengan Idul Fitri. Untuk tes yang dilaksanakan bulan Desember, bulan Agustus pendaftaran sudah dibuka dengan form yang terbatas. Jengjeng!

Alhamdulillah saya tinggal di kota penyelenggara, Yogyakarta, jadi langsung meluncur ke sekretariatnya di Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya UGM. Gedungnya lebih mudah diakses melalui jalan yang dekat GSP (sisi barat) daripada melalui pintu masuk fakultas (sisi utara). Satpam tau kok tempatnya, tapi saya tetap muter-muter bingung akhirnya diantar dedek mahasiswa sampai lokasi. Sekretariat di Yogyakarta ini hanya buka sebentar, pukul 10-14 kalau tidak salah. Pendaftaran juga dapat dilakukan melalui email. Cek website Sastra Jepang UGM untuk informasi lebih lanjut.

Setelah membayar uang pendaftaran 100 ribu rupiah, saya mulai mengisi formulir yang ternyata banyak. Saya pikir hanya menuliskan identitas umum. Ternyata disuruh mengisi kuisioner seperti dari siapa belajar Bahasa Jepang, tujuan ikut JLPT, apakah sering menggunakan Bahasa Jepang, dsb. Kemudian juga diminta menuliskan alamat tujuan pengiriman hasil tes.

Teman saya ada yang kehabisan formulir. Pendaftaran dibuka dari 8 Agustus –  9 September 2016 tetapi 29 Agustus formulis sudah habis. Jadi, harus cepet-cepetan!

Apa yang perlu dipersiapkan?

Saya pertama kali mempelajari Bahasa Jepang di usia yang sangat muda. Umur 3-8 tahun saya terbiasa mendengar percakapan Bahasa Jepang, melihat hingga mencoba membaca 3 jenis huruf Jepang –Hiragana, Katakana, Kanji.

Kebiasaan itu terputus, sehingga saya kesulitan untuk memulai kembali.

Setelah bertahun-tahun tidak akrab dengan Bahasa Jepang, pada saat SMA saya memilih Bahasa Jepang untuk memenuhi kolom bahasa asing di rapot. Wulan Sensei mengajar dengan metode yang menyenangkan. Games, tebak-tebakan, membuat kamus. Kami juga menggunakan buku textbook yang saya lupa judulnya. I was doing good at that time, tapi ya motivasinya hanya nilai sehingga lupa lagi.

Ketika ikut les di Pusat Studi Jepang UGM itulah saya baru benar-benar ingin mempelajari Bahasa Jepang karena berencana ikut program pertukaran mahasiswa. Di sana saya berada di lingkungan orang-orang yang bukan cuma ingin bisa berkomunikasi, tetapi juga tertarik mempelajari budaya.

Eh, kemudian saya tidak diterima program pertukaran mahasiswa tersebut. Saya jadi mlempem. Ikut les lagi juga karena ditawari.

Selain mempelajari buku Minna no Nihongo dan lembar-lembar grammar dari Aldo Sensei, kami diajak bertemu dengan orang Jepang untuk berlatih komunikasi. Ini yang menjadi tantangan. Berbeda dengan Bahasa Inggris, tidak banyak orang menggunakan Bahasa Jepang sehingga penting untuk berada di lingkungan yang sama-sama mempelajarinya. Saya juga memperhatikan, teman-teman yang gemar nonton anime, film, lagu Jepang lebih mudah dan cepat mempelajari kosa kata, ungkapan. Ah ya, kami juga berbagi informasi mengenai buku dan aplikasi untuk belajar. Teman saya membeli buku latihan JLPT N5 di Gramedia. Sementara aplikasi yang saya download di handphone ada Japanese 1 (ini ada banyak tingkatan), Jsho, Kanji Study. Ada juga JLPT goi untuk hafalan kosa kata. Di website JLPT pun ada latihan soal.

Bagaimana pelaksanaannya?

Jika dirunut kebelakang, saya berkutat dengan Bahasa Jepang tahun 1996-2001, 2008-2011, September-Desember 2015, April-Mei 2016. Di antara waktu-waktu tersebut, saya tidak mengembangkan kemampuan diri.

Ketidak-istiqomah-an ini membuat saya keseret-seret menjelang hari-H pelaksanaan. Ditambah lagi jarak waktu cukup lama antara pendaftaran bulan Agustus dan tes bulan Desember sementara saya sudah mulai melakukan ini itu. Sayapun baru ingat kalau ikut JLPT h-2 minggu karena grup chat rame membicarakan ini. Panik!

Berdasarkan lokasi yang diumumkan di website, saya melakukan JLPT N5 di SMA 11 Yogyakarta. Parkirannya diisi oleh bus-bus pariwisata dari Semarang, Solo. Peserta yang ikut sebagian besar anak SMA dan kuliahan, tapi ada juga yang bapak-bapak walau bisa dihitung jari.

Terdapat 3 sesi tes. Sesi pertama grammar 25 menit, lalu istirahat 10 menit. Sesi kedua reading kira-kira 50 menit, lalu istirahat 10 menit. Sesi ketiga listening 30 menit –yang di antara soal juga ada perintah istirahat 1 menit sambil mendengarkan lagu. Apakah ini memang sengaja dibuat banyak istirahat agar peserta tes tidak stress? Tapi benar, loh! Walaupun kesulitan mengerjakannya, saya tidak terasa capek dan terbebani. Dibikin ketawa aja karena bahkan saya tidak tau soalnya disuruh apa. Semua tulisan di lembar soal berbahasa dan huruf Jepang (yaiyalah) jadi saya cuma meraba-raba dari contoh soal.

Kapan Pengumuman?

Saya harus menunggu hingga akhir Februari untuk melihat hasil di website JLPT. Hasilnya akan menunjukkan lolos dengan score sekian atau tidak lolos. Iyaa, ada kategori tidak lolos juga. Lalu sertifikat akan dikirimkan bulan Maret. Harus sabar menunggu~

Puyeng juga kepala ini menambah 3 macam jenis huruf, grammar yang rumit, dan kosata baru. Padahal kekhawatiran punahnya bahasa daerah selalu ada, Bahasa Inggris juga masih plegak pleguk. Tapi mempelajari bahasa untuk berkomunikasi selalu menyenangkan.

Bagaimana caramu untuk belajar Bahasa Jepang? Atau bahasa asing secara garis besar?