Disiplin

Seorang teman tiba-tiba membatasi waktu jika saya ingin menghubunginya untuk membahas hal tertentu. 07-21. Katanya, sedang berlatih disiplin. Reaksi pertama saya, yaelah gini amat. Sebagai orang yang bisa tidur 10 jam atau 3 jam sehari, pola tidur pelor sepanjang malam atau tidur-bangun-tidur-bangun, sehari tidak makan nasi atau bisa makan hingga 4 kali dan ngemil banyak, apalagi olahraga yang dilaksanakan suka-suka, sesederhana mengatur jadwal chatingan adalah hal tidak pernah saya pikirkan. Satu-satunya masa ketika hidup saya teratur adalah saat Ramadhan. 11 bulan sisanya? Embuh.

Dengan menjalani hidup secara random fleksibel, akhirnya tiba pada satu titik ketika saya harus menentukan kapan melakukan apa. Dalam skala kecil, ya ini tantangan menulis 30 hari yang masih saya kerjakan sesuka hati, sehingga baru ada 2 tulisan dalam 6 hari di bulan September. Padahal kalau dihitung-hitung, dalam 1 hari masih sisa cukup untuk meluangkan waktu melakukan hal selain kerja harian. Meluangkan waktu, bukan sekedar melakukan sewaktu-waktu. Sepertinya, sisa waktu saya sebelumnya habis untuk scroll media sosial dan ngalamun. Sungguh tidak produktif dan tidak berfaedah. Kalau masih terus begini, nanti tiba-tiba sudah tua dan tidak berbuat apa-apa.

Saya masih trial and error strategi untuk merampungkan tantangan ini. Kemarin, Caye ngechat menanyakan kabar, serasa disapa dosen pembimbing yang raut wajahnya menagih tugas akhir. Tapi justru itu yang menjadi cambuk bagi saya kalau harus berusaha lebih keras lagi.

Oke, sudah tidak fokus. Publish saja dulu.

Advertisements

Pemanasan

Hubungan saya dengan blog ini bisa digambarkan seperti begini: terjalin karena dipaksa oleh guru SMA, semakin lama semakin nyaman, menjadi tempat segala curahan, lalu tiba-tiba boom kecemasan menyeruak, mempertanyakan alasan menulis, mencoba mengais sisa-sisa semangat, berjanji akan rajin menulis, bosan, terlupakan, lalu rindu.

Kemarin sore, saya membaca blognya Caye tentang cita-citanya menjadi penulis dan mentor bagi penulis. Walaupun kami memiliki pandangan yang berbeda dalam hal kepenulisan, saya segera menghubunginya untuk meminta nasehat. Tercetuslah tantangan menulis 30 hari yang kebetulan kemarin adalah tanggal 1 September, jadinya pas. Saya sempat pesimis bisa menuntaskan itu, hingga keesokan harinya Caye bilang kalau menunggu tulisannya saya.

Baiklah. Kenapa tidak dicoba saja?

Dengan kata lain, saya sudah terlambat 1 hari karena kemarin pelor parah dan terbangun pagi buta. 2 tulisan dalam 1 hari, dan saya tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Kenapa tiba-tiba ngebet nulis di blog lagi? Karena otak saya sudah terlalu lama tidur, entah kapan terakhir bersemangat untuk melakukan apa selanjutnya. Ada banyak ide, tapi yang paling mudah direalisasikan adalah kembali meramaikan blog dengan tulisan-tulisan.

Masih perlu banyak yang yang harus dilatih; tentang bagaimana menuangkan pikiran/imajinasi menjadi kata-kata runut, mudah dipahami, dan menarik. Seperti kata Uda Ivan Lanin, berbahasa itu seperti makan. Makan sembarangan di pinggir jalan, junk food itu mengenyangkan tapi tidak sehat. Orang akan tetap paham dengan bahasa yang terbolak balik, tidak baku. Coba makan 4 sehat 5 sempurna, coba berbahasa sesuai EYD, kan lebih enak dimakan, lebih enak didengar dibaca.

Dan yang paling penting apa yang mau ditulis. Caye memberi usulan untuk menuliskan ucapan terima kasih kepada teman. Saya pernah menuliskannya tahun lalu di sini, ini, dan ini. Yang membuat tersentil adalah ketika Caye menyarankan untuk menulis hal-hal yang disyukuri setiap hari. Saran yang tepat apalagi jika kamu membaca beberapa tulisan saya yang suram belakangan ini. HA!

Atau ada yang punya ide lain?

P.S. Semoga Ibuk tidak ngambek, karena dengan melakukan tantangan menulis 30 hari maka saya akan lebih banyak berada di depan laptop.

Lebaran 1439 H

  1. Lebaran hanya bersama ibuk bapak. Dua kakak tidak pulang karena ada urusan sendiri-sendiri. Udah gede. Di tempat rame juga merasa kesepian, jadi kondisi seperti ini…biasa aja. Serius? Enggak.
  2. Baru saja dapat email yang dibold, underline, italic. Mata langsung menuju ke tulisan not successful. Sudah saya duga sebelumnya tapi kok tetep puyeng juga ya. ‘Kegagalan’ semacam ini menyadarkan saya kalau sudah hampir 2 tahun saya berada dalam zona nyaman, berhenti mengusahakan sesuatu.
  3. Ada tulisan serius yang belum selesai dikerjakan. Kenapa jadi semakin susah menulis?
  4. Harus terus sibuk supaya tidak sempat mikir hal yang tidak penting. Kadang pengen tenggelam dan menghilang. Itulah mengapa saya suka tidur. Sibuk tidur?
  5. Merujuk pada tulisan Mbak Nuzuli, iya memang tidak semua cerita perlu disampaikan. Beruntunglah jika punya seseorang yang dipercaya yang jadi ‘tempat sampah’ segala macam. Buku harian bisa jadi salah satu opsi. Tapi buku harian bukan orang.

Gimana? Sudah memaafkan diri sendiri belum?