2018 reveiw

Ketika sedang membaca blog orang, saya mendapatkan notifikasi anniversary 9 tahun telah bersama WordPress. Selamat yaa akuu. Di sisi lain merasa sedih karena 4 tahun terakhir tidak aktif membuat tulisan di sini. Niat selalu ada, tapi ya diwujudkan suka-suka.

Mumpung sedang dalam keinginan untuk menulis, marilah pertama-tama membuat review 2018. Walaupun sudah berlalu 2,5 bulan, semoga belum terlambat.

Career

Ditinggal resign Harriyadi dan Mas Hafiz, dua orang kolega tempat curhat macam-macam. “Ayo kapan ke Jakarta?” “Kapan nyusul resign?” “Isih ning Balai?” adalah pertanyaan asyeem yang sering mereka lontarkan dan bikin kangen. Ciye.

Di saat yang bersamaan merasa bosan dan menjadi robot. Semangat ngantor menurun. Lalu memikirkan betapa sia-sianya 8 jam kalau tidak dinikmati. Sempat izin 1 hari karena butuh liburan, tapi sama aja karena tetap dihubungi orang kantor. Untuk menjawab pertanyaan mereka dan mengatakan maaf saya sedang tidak masuk membutuhkan energi yang sama aja, jadi yaudah. But please, I need a break. Terngiang-ngiang apa kata Harriyadi atau Mas Hafiz lupa yang mana: jangan terjebak kenyamanan. Apakah ini jalan yang tepat? Sampai berapa lama seperti ini?

Sempat ikut kelas diskusi tentang karir. Ketika menceritakan pengalaman, saya sudah seperti mau pecah tangisnya, untungnya tertahan di tenggorokan.

Pada pertengahan tahun, salah satu pegawai cuti kuliah sehingga jobdesc beliau dialihkan ke saya. Sungguh awalnya sangat buta dengan menyusun anggaran kegiatan, lalu pelan-pelan belajar baca SHBJ, komponen kegiatan apa aja. Metani angka satu-satu. Melakukan ini semacam memberikan suntikan semangat melakukan sesuatu yang perlu mikir.

Menjelang bulan puasa, kami pindahan kantor. Semula ada di rumah joglo dengan karyawan 15an orang, lalu pindah di gedung pusat lantai 3. Tanpa lift tanpa eskalator, trap tangganya ketinggian. Mantap kempol jadi kenceng. Hal menyenangkan dari kepindahan ini adalah bertemu beragam orang, memiliki teman yang semakin banyak.

Di akhir tahun, giliran Mas Dimas yang resign. Seseorang yang banyak saya jadikan panutan dan minta petuah. Lagi-lagi pertanyaan muncul: sampai berapa lama saya mau di sini?

Tentu berbeda antara tidak bersyukur dan berusaha mencari sesuatu yang ‘lebih baik’ ya.

Oohya hampir lupa. Saya mendaftar CPNS di BNPB. Loh kenapa nggak di PU aja kan yang dibutuhkan banyak? Atau di pemda aja biar bisa di Jogja terus? Ada banyak alasan kenapa saya memilih BNPB. Sempat tes di Jakarta dan melihat teman kantor yang tidak tahu namanya. Kami berdua tidak lolos, lalu bertemu di kantor dan menertawakan nasib masing-masing.

Sempat mendaftar beasiswa Australian Awards. Karena setengah hati, ya tidak lolos.

Relationship

Hhhh, kenapa saya memasukkan judul ini? Baiklah.

Hubungan saya dengan orang-orang di sekeliling saya ada yang layu. Lingkungan yang dulu menjadi tempat berbagi canda tawa menjadi asing. Saya kira, saya yang terlalu menarik diri dari mereka karena negara api menyerang. Tapi ternyata bukan hanya saya yang mengalami pertemanan di usia dewasa semakin mengecil. Memang karena sudah sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tidak pernah halo halo lagi. Kalau bertemupun saya lebih banyak diam mengamati.

Ada juga hubungan yang sengaja dibuat layu, bahkan mati. Dulu kami begitu dekat lalu menjauh. Saya sangat naif menerima kehadirannya sekali lagi, membiarkan saya kembali merasakan kupu-kupu yang beterbangan tiap kali ada pesan masuk. Awalnya saya kira ini akan berjalan menuju yang lebih baik. Kami kembali bertukar kabar, mengerjakan proyek bersama. Namun, entah kapan saya menyadari bahwa ini hubungan yang tidak sehat, so many red flags. Dikasih tau teman dan orang rumah sih, “hmm, kamu yakin jah?” Kedatangannya tiba-tiba di depan muka harusnya membuat saya senang, tapi saya tahu ini bukan pertanda baik. Setelah 3 hari sering bertemu, saya mengantarkannya ke stasiun dan kami membicarakan apa yang menjadi ganjalan. Dia yang berbicara, saya menangis tidak tahu malu. Saya mengumpati diri sendiri kenapa begitu bodoh. Tidak ingin terpuruk untuk kedua kalinya, saya mencoba menjalani hari seperti biasa. Tapi ya kok badan tidak bisa dibohongi ya. Tiba-tiba menangis di kantor, sering gemetar dan deg-degan, pusing nggak karuan. Yang kami jalani tidak selamanya buruk dan saling menyakiti. Ada banyak sekali kenangan manis yang sayangnya masih saya ingat. Tapi memang akan lebih baik jika kami tidak menjalin hubungan seperti ini lagi.

Oke. Mari beralih ke hubungan yang tumbuh. Entah bagaimana saya sekarang kalau tidak ada Ratih. Dia yang cus gas ngapa-ngapain, mengajak jogging, sepedaan, kajian, yang menarik saya dari masa-masa kelam. Mega yang jauh di sana dan sibuk dengan keluarga kecilnya tapi masih selalu mau direpotin curhatan nggak jelas. Teman-teman SMA yang tidak pernah berubah.

Orang-orang kantor yang mengayomi dan mengajarkan how to be a grown up, untuk cuek dan nggak usah terlibat dalam drama kantor. Dan lalu berlanjut pada cerita-cerita hingga tengah malam. Ehe.

Health and Other Things

Karena tidak sengaja kecemplung jadi yaudah sekalian basah saja. Ikut membantu, jika bisa dibilang begitu, tesis teman. Walaupun pada akhirnya saya tidak tahu dipakai atau tidak karena tidak diperbolehkan melihat hasil akhir tesisnya. Nothing to lose juga sih, toh saya jadi belajar hal baru.

Memang ajaib satu orang ini. Dia bukan tipe yang suka kegiatan anak-anak tapi karena diajak oleh temannya jadi dia mengikuti Kelas Inspirasi. Saya mengerjakan tugasnya untuk membuat poster dan spanduk. Melakukan ini mengingatkan betapa saya menyukai hal-hal semacam ini: komunitas, anak-anak, pendidikan. Hidup mengharuskan saya belok sebentar ke jalur lain.

Karena hal-hal di atas, sedikit banyak mempengaruhi kesehatan. Pikiran-perasaan-tubuh adalah tiga hal yang saling berhubungan, masing-masing bisa menjadi sebab dan akibat. Saya sangat membenci tubuh saya yang kurus begini jadi tahun 2018 bersungguh-sunggguh untuk menaikkan berat badan. Target 50 kg terlalu muluk-muluk, sehingga saya turunkan tagetnya menjadi 45 kg. Tiap orang punya perjuangannya sendiri-sendiri. Ada yang bisa mudah menaikkan berat badan tapi sulit menurunkannya. Sedangkan saya sangat bisa menurunkan 1-2 kg dalam seminggu, tapi butuh perjuangan berbulan-bulan untuk menaikkannya. Sering pusing, mual tiap kali mau makan, tidak merasa lapar mungkin jadi penyebabnya ya. Selain itu, alhamdulillah sehat walafiat.

Hal yang tidak terlihat justru yang membuat ya tuhaan kuingin udahan aja plis tapi takut mati. Sungguh lelah hidup di badan ini dengan segala complicated issue. Rasanya ingin keluar dari diri sendiri. Satu momen di akhir tahun, saya memberanikan diri untuk menelpon biro konsultasi psikologi. Bukan hal yang mudah untuk mengakui vulnerabilities and ask for help. As it turns out, only you who can help yourself. Psikolog ‘hanya’ membantu membuka awan gelap yang menutupi otak yang bikin sulit berpikir jernih. Proses ini panjang dan melelahkan. Bolak balik berkali-kali dikuras pikiran, perasaan dan air mata …. dan duit. Ditlateni aja, keep going. Percayalah, everything will get better, entah betul-betul menjadi lebih baik atau setidaknya mampu berkompromi dengan diri sendiri dan keadaan. Dalam hal ini, I thank Mbak Nuzuli so much.

Teman dekat satu persatu menikah dan punya bayi. Married and having baby are real things, y’all. Semoga selalu strong ya bukibuk dan pakbapak.

Baiklah, it’s a wrap!

Jika dilihat dari kacamata burung, hidup saya baik-baik saja, masih bisa guyonan receh. Tapi kalau diperhatikan hal-hal kecil, I am a complete mess. Saya tidak bisa bertahan hingga sekarang tanpa nama-nama yang disebut di atas dan nama-nama yang sengaja tidak disebut –you know who you are.

Yaudah, beginilah kehidupan ya sodara-sodara yang memang ada bumbu sedap sedap asem. 2019 sudah masuk bulan ketiga. Target ini itu perlahan mulai ditapaki. Bismillah!

Advertisements

Disiplin

Seorang teman tiba-tiba membatasi waktu jika saya ingin menghubunginya untuk membahas hal tertentu. 07-21. Katanya, sedang berlatih disiplin. Reaksi pertama saya, yaelah gini amat. Sebagai orang yang bisa tidur 10 jam atau 3 jam sehari, pola tidur pelor sepanjang malam atau tidur-bangun-tidur-bangun, sehari tidak makan nasi atau bisa makan hingga 4 kali dan ngemil banyak, apalagi olahraga yang dilaksanakan suka-suka, sesederhana mengatur jadwal chatingan adalah hal tidak pernah saya pikirkan. Satu-satunya masa ketika hidup saya teratur adalah saat Ramadhan. 11 bulan sisanya? Embuh.

Dengan menjalani hidup secara random fleksibel, akhirnya tiba pada satu titik ketika saya harus menentukan kapan melakukan apa. Dalam skala kecil, ya ini tantangan menulis 30 hari yang masih saya kerjakan sesuka hati, sehingga baru ada 2 tulisan dalam 6 hari di bulan September. Padahal kalau dihitung-hitung, dalam 1 hari masih sisa cukup untuk meluangkan waktu melakukan hal selain kerja harian. Meluangkan waktu, bukan sekedar melakukan sewaktu-waktu. Sepertinya, sisa waktu saya sebelumnya habis untuk scroll media sosial dan ngalamun. Sungguh tidak produktif dan tidak berfaedah. Kalau masih terus begini, nanti tiba-tiba sudah tua dan tidak berbuat apa-apa.

Saya masih trial and error strategi untuk merampungkan tantangan ini. Kemarin, Caye ngechat menanyakan kabar, serasa disapa dosen pembimbing yang raut wajahnya menagih tugas akhir. Tapi justru itu yang menjadi cambuk bagi saya kalau harus berusaha lebih keras lagi.

Oke, sudah tidak fokus. Publish saja dulu.

Pemanasan

Hubungan saya dengan blog ini bisa digambarkan seperti begini: terjalin karena dipaksa oleh guru SMA, semakin lama semakin nyaman, menjadi tempat segala curahan, lalu tiba-tiba boom kecemasan menyeruak, mempertanyakan alasan menulis, mencoba mengais sisa-sisa semangat, berjanji akan rajin menulis, bosan, terlupakan, lalu rindu.

Kemarin sore, saya membaca blognya Caye tentang cita-citanya menjadi penulis dan mentor bagi penulis. Walaupun kami memiliki pandangan yang berbeda dalam hal kepenulisan, saya segera menghubunginya untuk meminta nasehat. Tercetuslah tantangan menulis 30 hari yang kebetulan kemarin adalah tanggal 1 September, jadinya pas. Saya sempat pesimis bisa menuntaskan itu, hingga keesokan harinya Caye bilang kalau menunggu tulisannya saya.

Baiklah. Kenapa tidak dicoba saja?

Dengan kata lain, saya sudah terlambat 1 hari karena kemarin pelor parah dan terbangun pagi buta. 2 tulisan dalam 1 hari, dan saya tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Kenapa tiba-tiba ngebet nulis di blog lagi? Karena otak saya sudah terlalu lama tidur, entah kapan terakhir bersemangat untuk melakukan apa selanjutnya. Ada banyak ide, tapi yang paling mudah direalisasikan adalah kembali meramaikan blog dengan tulisan-tulisan.

Masih perlu banyak yang yang harus dilatih; tentang bagaimana menuangkan pikiran/imajinasi menjadi kata-kata runut, mudah dipahami, dan menarik. Seperti kata Uda Ivan Lanin, berbahasa itu seperti makan. Makan sembarangan di pinggir jalan, junk food itu mengenyangkan tapi tidak sehat. Orang akan tetap paham dengan bahasa yang terbolak balik, tidak baku. Coba makan 4 sehat 5 sempurna, coba berbahasa sesuai EYD, kan lebih enak dimakan, lebih enak didengar dibaca.

Dan yang paling penting apa yang mau ditulis. Caye memberi usulan untuk menuliskan ucapan terima kasih kepada teman. Saya pernah menuliskannya tahun lalu di sini, ini, dan ini. Yang membuat tersentil adalah ketika Caye menyarankan untuk menulis hal-hal yang disyukuri setiap hari. Saran yang tepat apalagi jika kamu membaca beberapa tulisan saya yang suram belakangan ini. HA!

Atau ada yang punya ide lain?

P.S. Semoga Ibuk tidak ngambek, karena dengan melakukan tantangan menulis 30 hari maka saya akan lebih banyak berada di depan laptop.