Cerita dan Sedikit Tips Mengikuti JLPT (Part 1)

Saya selalu ingin menghilang dari kampus pada masa-masa akhir kuliah. Ketika berhasil lolos untuk magang selama satu semester di awal tahun 2015, saya sudah berancang-ancang untuk menghindari kampus lagi dengan mendaftar program pertukaran mahasiswa ke Jepang pada semester selanjutnya. Akan tetapi, nama saya tidak ada di dalam daftar mahasiswa yang berhasil mengikuti program tersebut. Baiklah, berarti saya harus kembali ke kampus menyelesaikan tugas akhir.

Ternyata, beberapa teman ada yang sudah bersiap untuk terbang ke Jepang untuk program pertukaran mahasiswa di kampus yang berbeda. Shout out to Daniar, Donna, Arbi yang mendorong saya untuk mendaftar lagi. Di tengah ke-embuh-an tugas akhir, saya kembali menyiapkan berkas. Bahkan Pak Ismu mengejar-ngejar saya untuk segera mengajukan recommendation letter. This was my last chance to join this program.

Sebagai bentuk ikhtiar, halah, sore hari sepulang dari berkutat dengan tugas akhir, saya ikut les Bahasa Jepang di Pusat Studi Jepang UGM. Awal tahun 2016, tempat lesnya bergabung dengan Pusat Pelatihan Bahasa UGM. Cmiiw. Saya dan teman-teman kemudian berhenti les.

Lagi-lagi saya tidak diterima program pertukaran mahasiswa. Sedih sih, tapi setidaknya saya jadi kenal dengan orang-orang baru yang asik. Bahkan bertemu dengan kakak angkatan jauh lalu bisa konsultasi kehidupan paska lulus kuliah. Heu.

Handphone saya berdering mendapat pesan dari Aldo Sensei yang menawarkan les semi privat Bahasa Jepang. Saya mengiyakan karena gabut juga di rumah mau ngapain. Kami mempelajari materi untuk mengejar target bisa ikut JLPT N5 di bulan Desember 2016.

Yuk, cari tahu seluk beluk mengenai JLPT di sini.

I am dying.

Ketika ada teman yang baru saja wisuda, bukannya mengucapkan selamat wisuda tapi yang sering keluar dari mulut adalah: selamat datang di rimba paska kuliaahh. Sambil evil laugh. Jahat.

But it really is.

Setidaknya menurut saya yang menyimpan banyak suara di dalam kepala. Apa yang saya punya, apa yang ingin saya lakukan, dan apa ekspektasi orang-orang terhadap saya. Ketiga hal yang saling bersilangan bikin kepala mau pecah.

Ditambah lagi dengan kenyataan teman-teman yang sudah mulai menapaki kemapanan dan meraih ini itu. Untung saja saya berhenti mengonsumsi media sosial sejak lebih dari satu tahun lalu kecuali buat kepo si dia. Karena banyak postingan yang menunjukkan sedang apa di mana dengan siapa, tidak jarang terbersit perasaan: kok aku masih gini-gini aja sih. Eits, don’t get me wrong. Ini ketidakmampuan saya untuk menyikapi ini. Kamu mah mau posting apapun terserah. Saya tidak punya kuasa untuk mengatur kamu. Tapi saya punya kontrol penuh terhadap hidup saya.

Yaaa walaupun masih tiba-tiba nangis, teriak-teriak. Bisikan di dalam kepala sangat berisik. What am I doing with my life? What are you looking for? Why do I still breathing? What if I die in a second? Jawaban dari rentetan pertanyan tersebut adalah let me sleep. Tapi kalau nggak bangun lagi gimana?

Yes, I think a lot about death lately.

So I went to psychologist. And it’s okey to not okey.

Fika yang menjadi salah satu support system dalam menghadapi ini bilang: ini lagi dilatih mentalnya buat jadi perempuan kuat. Kan malah jadi belajar banyak to dengan mengalami ini itu.

Saya sedang mencoba menikmati permainan hidup yang penuh lika liku dan kejutan tanpa bisa saya prediksi. Dengan melakukan ini itu anu, kemampuan diri harus dilipatgandakan. Pun saya harus merelakan hal-hal yang sebenarnya menyenangkan tetapi malah diam-diam menggerogoti diri saya. So, I am so sorry for not showing up.

It is hard, of course. But I have to keep going because in the end, only me who can save myself.

Ketika Masupi tau ini, dikira saya mau minum baygon -_-
Dikira Masupi, saya mau minum baygon -_-

Detak jarum jam semakin jelas kudengar. Akhir bulan datang lagi dan kepanikan terpompa sejalan dengan darah yang keluar dari jantungku. Bukan karena kantong semakin tipis, tapi karena waktuku hampir habis.

I wish I could go back to those days when I could easily pour my thought into words. Satu-satunya hal yang aku harapkan dari masa lalu. But I am trying to start again, anyway.