Nggunung Merbabu #1

Hey, sekolahku lustrum ke XI, berarti ulangtahun ke 45 sehingga banyak sekali acara. Salah satunya adalah Pendakian Massal ke gunung Merbabu. Aku sangat excited dan ingin sekali ikut. Ditambah lagi, teman satu mejaku, Hanum, sebagai sekretarisnya sehingga tau apa tentang pendakian massal. Dan lagi, banyak teman-teman Vachera (kelompok pecinta alam sekolahku) yang mengajak untuk ikut pendakian massal ini. Ujek, Haves, Mbak Cocom, dan lain-lain. Ah, kenapa aku punya banyak kenalan anak-anak Vachera ya? Bikin ngiri aja – –

Jauh-jauh hari sudah bilang ke ibuk dan beliau menggantungkan nasibku. Mas Supi, Mbak Mama dan temannya Mas Supi, menakut-nakuti, em, bukan. Mengetes seberapa besar nyaliku untuk mendaki gunung. Apapun yang mereka katakan, aku tetap mau ikut mendaki gunung. Keras kepala sekali ya? Dan setelah selesai semesteran ibuku menjawab : ya. Horeee!!!

Tanggal 21-23 kemah pramuka di Tempel. Kalau sempat, aku akan menceritakan tentang ini. Lalu, tanggal 24 TM pendakian massal. Malamnya muntah-muntah, badan panas, mata susah melek. Sehari Jumat, aku tepar, hanya tidur di kasur. Aduh, bagaimana ini? Ketika niat sudah bulat, izin sudah dapat, tapi badan tidak besahabat, dan pembina Frosa (PMR sekolahku) mangkat. All izz well. Kalaupun tidak bisa ikut pendakian massal, yasudahlah. Daripada dipaksakan malah tidak enak.

Lalu mbak Cocom menulis : nek wis diniati ki mangkat wis.

Hari Sabtu tanggal 27 pagi. Aku baru packing. Beli ini anu itu. Siapkan itu anu ini. Layat Pak Krisnadji di Gedongkiwo. Lalu ke sekolah, sekalian lihat rapot, sekalian kumpul-kumpul sama anak Frosa. Rencana jam 11 sudah mau berangkat. Tapi, setelah dzuhur, kam baru berangkat. Sepanjang jalan menuju Magelang, macetnya main-main. Selain karena weekend, ada proyek pelebaran jalan. Sampai di basecamp Merbabu sekitar jam 3 lebih. Berkabut, sinar matahari muncul di sela-sela awan. Pohon pinus, sayur-sayuran tumbuh subur di sana. Gunung-gunung lain eksis beridiri gagah menyaingi Merbabu. Kehangatan setiap orang mampu mencairkan udara dingin yang menusuk tulang.

Loh, ini kan jam 5? Adzan apa to? Ashar bukan, maghrib juga belum. Aneh. Haha. Lalu setelah sholat maghrib dijamak isyak, kami berangkat. Bersama Hanum, mbak Beta, Anita, Alif, Iyus, Pak Joko, dan lain-lain memulai perjalanan menyusuri jalan setapak dan menembus pohon-pohon.

-berlanjut-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s