Marah Marah Itu Nggak Perlu

Kejadian ini terjadi pada hari Rabu, 22 Marer 2010 pagi. What a shocking day!

Begini ceritanya. Pada hari itu, aku bangun jam 5 dan semua anggota keluargaku sudah bangun. Ya~h tahu sendiri lah, aktivitas apa yang dilakukan kalau pas liburan? Yup, santai santai, menikmati pagi hari yang cerah tanpa kesusu-susu antri mandi, makan belum jadi, ngenol, dan lain sebagainya.

Aku duduk di depan pintu, lihat kebon belakang rumah sambil ngalamun. Aku tidak peduli orang-orang berbuat apa. I just enjoy my life dan mengingat-ingat sore kemarin beli susu JIH sama Hanum dan Emil. Aku benar-benar dalam kondisi malas untuk berbuat apa-apa. Aku menolak tawaran untuk pergi ke pasar, nyapu, nyerbeti piring. Hanya duduk berpangku tangan serasa hidup tidak ada beban.

Grr, tak disangka keluarlah petuah-petuah dari mulut Sang Kakak. Aku sudah terbiasa dengan segala hal semacam itu. Rupanya, beliau ingin mencoba nada sopran. Nada nyanyiannya dinaikkan. Heh, hal itu malah memancingku untuk terus menggodanya. Kalau ada award dalam hal the most jahil sister, akulah pemenangnya. Walaupun aku anak terakhir sendiri, tapi aku berhasil membuat kakak-kakakku kuwalahan. Jiyahaha! Lanjut ke topik awal. Rupanya, aku keterlaluan. Hingga melayanglah tangan beliau ke tubuhku. Sakit? Tentu saja. Sekarang, beliau menggunakan tanda dinamik forte, yaitu keras. Lirik-lirik ‘lagu’ itu hanya mampir sejenak di otakku, lalu pergi. Lalu aku pergi meninggalkannya.

Kembali melakukan aktivitas semula. Duduk di depan pintu, lihat kebon belakang rumah sambil ngalamun. Tapi, kali ini aku memikirkan hal yang berbeda. Huh, betapa keras kepalanya aku. Aku menghormati beliau dengan nasihatnya, tapi tidak dengan caranya beliau menyampaikan. Aku sangat tidak suka orang marah, apalagi dimarahin ya? xixixi. Menurutku, orang marah hanya membuang-buang energi, kasihan tuh otot lehernya jadi tegang. Kalau nggak bisa balik kan malah payah to?

Saya nulis ini cuma mau berbagi pengalaman saja. Bukan untuk menjelek-jelekkan beliau yang saya hormati tersebut. So, saya sedang berusaha untuk jadi anak manutan. Dan lagi, hadapilah orang yang keras kepala seperti air yang mengikis batu secara perlahan. Tahu to maksudnya?



Advertisements

4 thoughts on “Marah Marah Itu Nggak Perlu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s