Pernahkah berada dalam lingkaran pertemanan yang melelahkan? Yaitu ketika tidak bisa menjadi diri sendiri. Ketika lebih banyak perbedaan prinsip hidup. Ketika terseok-seok mengikuti jalan pikir mereka karena dituntuk begitu. Ketika bersuka cita pada perbincangan tertentu, tidak sadarkah ada yang berduka disini? Ketika diam dan yaudah sih menjadi senjata karena bagaimanapun juga mereka tetap menyerangmu dengan argumen-argumen menyebalkan. Sekali mulut terbuka, tajamnya mengalahkan tebasan pedang.

Ketika tidak pernah bisa tertawa lepas dan bahagia. Ketika tidak ada rasa rindu padahal jarang menghubungi.

Apa yang salah dengan semua ini? Mengapa masih mempertahankan?

Mungkin aku tidak bersyukur memiliki mereka dengan prestasi memenuhi lembaran CV. Mungkin aku harus mengubah sudut pandang dalam menilai ini. Ah, aku terbiasa mengutuki diri sendiri.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s